STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan baru yang menjadi dasar penghentian konflik antara kedua negara. Kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, hingga pembentukan dana rekonstruksi senilai sedikitnya USD300 miliar.
Mengutip BBC, kesepakatan yang berbentuk Memorandum of Understanding (MoU) itu mulai berlaku setelah ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Penandatanganan dilakukan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Prancis. Kesepakatan ini tercapai sekitar empat bulan setelah pecahnya konflik yang melibatkan AS, Iran, dan Israel.
Pemerintahan Trump menyebut kesepakatan tersebut berbasis kinerja atau performance-based. Artinya, Iran hanya akan memperoleh manfaat jika menjalankan seluruh komitmennya sesuai perjanjian.
Akhiri Konflik di Semua Front
Poin pertama dalam MoU menegaskan penghentian operasi militer secara langsung dan permanen di seluruh front, termasuk di Lebanon.
Dokumen itu juga menyatakan kedua pihak tidak akan lagi memulai operasi militer maupun mengancam satu sama lain. Selain itu, kedua negara berkomitmen menjaga integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan setiap kelanjutan operasi militer Israel di Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepahaman tersebut.
Saling Hormati Kedaulatan
Pada poin kedua, AS dan Iran sepakat menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
Kedua negara juga berjanji tidak mencampuri urusan dalam negeri satu sama lain.
Negosiasi Maksimal 60 Hari
MoU menetapkan tenggat waktu maksimal 60 hari untuk mencapai perjanjian final.
Periode tersebut dapat diperpanjang apabila kedua pihak menyetujuinya. Hitungan 60 hari dimulai setelah penandatanganan resmi dokumen oleh kedua pemimpin negara.
Gedung Putih menyebut Trump menandatangani dokumen tersebut dalam acara makan malam pasca-KTT G7 di Istana Versailles, Prancis.
AS Hentikan Blokade
Poin keempat mengatur penghentian blokade laut AS terhadap Iran.
Washington akan mulai mencabut hambatan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah MoU ditandatangani. Proses penghentian blokade dijadwalkan selesai dalam waktu 30 hari.
Dalam periode yang sama, AS juga berkomitmen menarik pasukan militernya dari area sekitar Iran dan kembali ke posisi sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Selat Hormuz Dibuka Kembali
Salah satu poin paling penting dalam kesepakatan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Iran berjanji melakukan berbagai langkah untuk memastikan kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman tanpa dikenakan biaya transit.
Arus pelayaran akan mulai berjalan segera setelah berbagai hambatan teknis dan militer disingkirkan, termasuk operasi pembersihan ranjau.
Pembukaan Selat Hormuz menjadi target utama AS karena penutupan jalur tersebut sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Dalam jangka panjang, Iran akan bekerja sama dengan Oman dan negara-negara Teluk untuk menyusun mekanisme pengelolaan Selat Hormuz secara lebih luas.
Dana Rekonstruksi USD300 Miliar
Poin keenam memuat rencana pembentukan dana rekonstruksi dan pengembangan ekonomi Iran dengan nilai minimal USD300 miliar.
AS bersama mitra regional akan menyusun mekanisme pendanaan tersebut setelah tercapainya perjanjian final. Namun, pejabat AS menegaskan pemerintah AS tidak wajib menyetor dana ke dalam program tersebut.
Seorang pejabat senior AS mengatakan, “The US is not required to pay a cent of money to Iran.”
Menurut pejabat tersebut, proyek-proyek pembangunan dapat dibiayai negara-negara kawasan dengan dukungan dan persetujuan AS.
Sanksi Ekonomi Akan Dicabut
MoU juga memuat komitmen AS untuk mengakhiri seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran, termasuk sanksi yang berasal dari resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun yang diterapkan secara sepihak oleh Washington.
Meski demikian, jadwal rinci pencabutan sanksi akan dibahas dalam negosiasi lanjutan menuju perjanjian final.
Iran Sepakat Tidak Memiliki Senjata Nuklir
Dalam poin kedelapan, Iran menyatakan tidak akan memperoleh maupun membeli senjata nuklir.
Kedua negara juga sepakat menangani stok uranium yang telah diperkaya milik Iran. Mekanisme teknisnya masih akan dibahas lebih lanjut, namun setidaknya material tersebut akan diencerkan di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
Seorang pejabat senior AS menyebut langkah itu sebagai “minimum standard“ dan “major win” bagi AS.
Pemerintahan Trump juga menegaskan pencabutan sanksi akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap komitmen nuklir yang telah disepakati.
Status Quo Program Nuklir
Poin sembilan dan sepuluh mengatur status quo program nuklir Iran selama masa transisi.
AS tidak akan menjatuhkan sanksi baru. Sebagai gantinya, Washington akan menerbitkan berbagai pengecualian untuk ekspor minyak, produk energi, layanan perbankan, serta transportasi yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan Iran.
Dana Iran yang Dibekukan Akan Dibuka
Kesepakatan juga mencakup akses Iran terhadap dana-dana yang selama ini dibekukan.
Dokumen menyebut AS akan membuat dana yang dibekukan atau dibatasi menjadi tersedia setelah MoU berlaku. Tata cara pelaksanaannya akan dirumuskan dalam perundingan lanjutan.
Sebagian aset dapat dilepas secara bertahap sebagai insentif atas kepatuhan Iran terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
Diawasi dan Diperkuat Resolusi PBB
Pada tiga poin terakhir, AS dan Iran sepakat membentuk mekanisme pemantauan pelaksanaan MoU dan kepatuhan terhadap perjanjian final.
Setelah implementasi berjalan, kedua negara akan melanjutkan perundingan menuju kesepakatan permanen.
Dokumen itu juga menyebut perjanjian final nantinya akan diperkuat melalui resolusi mengikat Dewan Keamanan PBB.

