spot_img

Lalu Lintas Selat Hormuz Kembali Normal, Harga Minyak Dunia Terpangkas 4%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 4% pada akhir perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (25/6/2026) WIB. Penurunan ini terjadi karena kekhawatiran akan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz mulai mereda.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 3,31 USD atau 4,3%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 73,74 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Ini merupakan level terendah sejak sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 2,87 USD atau 3,92%. Minyak WTI berakhir pada posisi 70,34 USD per barel di New York Mercantile Exchange. Harga WTI sempat menyentuh level terendah harian di angka 69,63 USD per barel, yang merupakan pertama kalinya jatuh di bawah 70 USD sejak 2 Maret.

Harapan muncul setelah kapal-kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz secara normal. Kabar ini menjadi sinyal gangguan pasokan di Timur Tengah mungkin segera berakhir.

Presiden AS Donald Trump merespons tajam penurunan harga minyak mentah ini. Ia mengkritik perusahaan-perusahaan minyak karena tidak segera menurunkan harga bensin di pompa bahan bakar.

“Perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga di pompa bensin sebanding dengan harga minyak yang turun tajam. Harga-harga itu jatuh seperti batu!,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

Trump juga menuding perusahaan minyak sedang memeras konsumen. Ia langsung memberikan instruksi khusus kepada penegak hukum.

“Dengan kata lain, pelanggan sedang ‘diperas’. Saya telah menginstruksikan DOJ untuk segera mulai menyelidiki hal ini. Harga bensin lebih baik mulai turun jauh lebih cepat daripada apa yang saya lihat!,” tambah Trump.

Karen Young, peneliti senior di Columbia University Center on Global Energy Policy, menilai ucapan Trump hanya “teater politik”. Menurutnya, harga bensin tidak langsung berubah mengikuti harga minyak karena ada faktor pajak dan proses di kilang.

“Sangat bergantung pada kilang, dan butuh beberapa minggu sebelum harga minyak mentah turun, lalu harga di kilang, dan kemudian ke konsumen sebelum mereka benar-benar dapat merespons,” ujar Young.

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) membawa kabar positif bagi keselamatan pelayaran. Sebanyak 11.000 pelaut yang sempat tertahan di Teluk Persia akan mulai keluar melalui Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan jaminan keamanan telah diamankan. Pihaknya juga sudah memverifikasi kondisi navigasi agar kapal bisa lewat dengan selamat.

“Kami akan melaksanakan ini dalam kerja sama erat dengan Iran, Oman, semua negara pesisir lainnya di wilayah tersebut, Amerika Serikat, dan industri maritim,” kata Dominguez.

Aditi Rasquinha, CEO DHL Global Forwarding Greater China, menilai terbukanya Selat Hormuz akan membantu kelancaran pengiriman barang global. Namun, ia mengingatkan pemulihan rantai pasok butuh waktu.

“Dengan terbukanya Selat, potensi besar dari tekanan itu akan mereda,” ungkap Rasquinha.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 Kompak Menanjak, Ini Pemicunya

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Harga Emas Dunia Terjun Bebas ke Level Terendah 7 Bulan, Sempat di Bawah 4.000 USD

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia jatuh ke level...

Harga Emas dan Perak Terjun Bebas di Pasar Global, Ada Apa?

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia kompak...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru