STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) merangkak naik pada Rabu malam (24/6/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (25/6/2026). Kenaikan ini didorong oleh laporan keuangan Micron Technology yang luar biasa. Para pelaku pasar kini juga sedang menantikan rilis data inflasi penting untuk bulan Mei.
Mengutip CNBC, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,5%. Kontrak berjangka Nasdaq 100 melonjak hingga 1,9%. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average menguat tipis 29 poin atau kurang dari 0,1%.
Saham Micron melonjak hampir 15% dalam perdagangan setelah jam kerja pada Rabu. Perusahaan chip ini melaporkan hasil kuartal ketiga fiskal yang melampaui ekspektasi para analis. Micron memproyeksikan pendapatan kuartal saat ini mencapai USD 50 miliar. Angka tersebut melesat jauh dibandingkan USD 11,3 miliar pada tahun sebelumnya.
Saham semikonduktor lainnya, Qualcomm, juga ikut naik 14%. Kenaikan terjadi setelah perusahaan menaikkan target pendapatan non-handset untuk tahun fiskal 2029 menjadi USD 40 billion. Target awal perusahaan sebelumnya hanya sebesar USD 22 miliar. Beberapa nama produsen chip lain seperti Sandisk, Western Digital, Lam Research, KLA, dan Applied Materials juga ikut terdongkrak.
Pada sesi perdagangan reguler sebelumnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sempat melemah masing-masing 0,10% dan 0,43%. Namun, indeks Dow Jones justru naik 182,06 poin atau 0,35%.
Ryan Detrick, Chief Market Strategist di Carson Group, menilai pergerakan pasar saat ini masih sehat. Ia menyebut perpindahan modal dari sektor teknologi ke sektor lain sebagai hal yang positif.
“Dengan kata lain, cakupan pasar meluas. Sektor teknologi memang turun, tetapi ada perputaran modal. Melihat perputaran ini benar-benar pertanda baik. Saya pikir ini konstruktif. Ada sedikit penurunan di bulan Juni, ini tidak terlalu mengejutkan,” ujar Ryan dalam wawancaranya dengan CNBC.
Ryan menambahkan ia menyukai perputaran modal ke sektor industri dan keuangan. Menurutnya, hal tersebut memberikan struktur yang lebih kuat bagi pasar saham di tahun ini.
Di sisi lain, kondisi geopolitik turut memengaruhi suasana di Washington. Gedung Putih meminta tambahan dana belanja kepada Kongres sebesar USD 87,6 miliar. Dana ini rencananya akan digunakan untuk membiayai perang Iran dan kebutuhan lainnya.
Permintaan tersebut diajukan oleh Russell Vought, Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran, melalui surat kepada Ketua DPR Mike Johnson. Namun, anggota Kongres dari Partai Demokrat langsung menyatakan keberatan atas permintaan Russell tersebut.
Kini, investor fokus menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Mei yang akan dirilis Kamis pagi. Data ini menjadi ukuran inflasi favorit bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai 4,1%, naik dari 3,8% pada bulan April.
Selain data inflasi, pelaku pasar akan memantau laporan keuangan dari beberapa perusahaan besar. McCormick, Commercial Metals, Darden Restaurants, dan Winnebago dijadwalkan merilis hasil kinerja mereka sebelum pasar dibuka. Data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama dan klaim tunjangan pengangguran mingguan juga akan menjadi sorotan

