spot_img

Harga Minyak Dunia Memanas, WTI dan Brent Kompak Menguat Usai Serangan Udara AS

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (14/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (15/7/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh serangan udara terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran serta perubahan kebijakan Presiden Donald Trump terkait Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1.5% menjadi USD 79.34 per barel. Minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional juga menguat 1.72% dan berakhir di posisi USD 84.73 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer AS melancarkan serangan udara tambahan terhadap Iran.  Langkah ini dibarengi dengan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan dan wilayah pesisir negara tersebut mulai pukul 16.00 waktu setempat.

Sentimen pasar juga dipengaruhi keputusan Presiden Donald Trump yang membatalkan tuntutan biaya perlindungan kapal. Sebelumnya, Trump mengusulkan biaya tol sebesar 20% bagi kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz di bawah perlindungan militer AS.

Trump menarik rencana tersebut setelah mendapat penolakan keras dari industri pelayaran dunia.  Organisasi Maritim Internasional (IMO), sebuah badan di bawah PBB, menyatakan pungutan wajib di selat tersebut merupakan tindakan ilegal.

Trump memberikan penjelasan mengenai perubahan sikapnya tersebut.  Ia menyebut negara-negara di wilayah Teluk akan memberikan kompensasi dalam bentuk lain kepada negaranya.

“Negara-negara Teluk akan berinvestasi di AS sebagai bentuk pembayaran pengganti,” ujar Trump.

Analis minyak menilai ada perbedaan besar antara pengumuman dan implementasi kebijakan di lapangan.  Saat ini, Washington dan Teheran masih terus berebut kendali atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan serangan udara telah dilakukan selama tiga malam berturut-turut.  Langkah ini bertujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal komersial.

“Serangan udara ini untuk mendegradasi kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal komersial,” ungkap pihak Centcom.

Ketegangan di perairan tersebut kian memanas setelah Garda Revolusi Iran menyerang dua kapal tanker raksasa.  Perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, melaporkan tankernya terkena proyektil saat melintasi selat.  Insiden ini mengakibatkan satu pelaut tewas dan beberapa lainnya luka-luka.

Meskipun terjadi konflik, aliran minyak tetap berjalan di tengah risiko tinggi.  Departemen Energi AS mencatat sebanyak 8.5 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada hari Minggu saja.

Padahal, sebelum konflik meluas pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi jalur ini setiap harinya.  Investor kini terus memantau perkembangan di Timur Tengah karena sangat menentukan stabilitas harga energi global ke depan

- Advertisement -

Artikel Terkait

Inflasi AS Melandai, Stock Futures Bergerak Datar Jelang Rilis Laporan Keuangan Emiten

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Stock futures Amerika Serikat bergerak...

Inflasi AS Melandai, Harga Emas Dunia Melonjak Lebih dari 1%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia melonjak lebih...

Futures Wall Street Tertekan, Pasar Waspadai Efek Konflik AS-Iran dan Data Inflasi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru