spot_img

Akhiri Tren Pelemahan, Wall Street Berhasil Rebound Ditopang Lonjakan Saham Semikonduktor

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (21/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (22/7/2026) WIB. Tiga indeks utama berhasil mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari beruntun.  Investor mulai mengalihkan perhatian dari perkembangan konflik Iran ke musim laporan keuangan emiten dan penguatan saham semikonduktor.

Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 385,38 poin atau 0,74% ke level 52.224,64. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,89% dan berakhir di posisi 7.509,20.  Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 1,29% menjadi 25.837,21.

Kenaikan Wall Street didorong oleh saham-saham sektor semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak lebih dari 4%. Saham Marvell Technology naik lebih dari 6%, Astera Labs bertambah 3%, Micron Technology melesat 12%, dan Intel menguat 8%.

Musim laporan keuangan emiten juga memberikan sentimen positif bagi pasar.  Saham 3M melonjak lebih dari 7% setelah membukukan laba kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi analis. Saham General Motors juga naik hampir 5% setelah mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Data FactSet menunjukkan sekitar 88% dari 66 emiten anggota S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan berhasil melampaui estimasi laba. Investor kini menanti laporan keuangan sejumlah perusahaan besar seperti Alphabet, IBM, dan Tesla yang dijadwalkan rilis pada pekan ini.

Analis investasi eToro, Bret Kenwell, menilai dua pekan ke depan akan menjadi periode penting bagi pasar.

“Dua pekan ke depan akan menjadi periode penentu bagi musim laporan keuangan, dan bukan hanya untuk sektor teknologi,” ujar Kenwell.

Ia menambahkan, “Pesannya sudah jelas, perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi tinggi Wall Street akan mendapat hukuman dari pasar.”

Menurut Kenwell, kondisi saat ini berbeda dengan kuartal sebelumnya ketika ketidakpastian geopolitik membuat ekspektasi investor lebih rendah.

“Hari ini, setelah pasar mencetak rekor tertinggi, hasil yang baik belum tentu cukup baik bagi investor,” kata Kenwell.

Penguatan Wall Street terjadi setelah pasar sempat tertekan oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.  Komando Pusat AS telah melancarkan serangan ke Iran selama 10 malam berturut-turut sejak Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir.  Di sisi lain, Teheran juga menyerang aset militer AS di Timur Tengah dan sekutu Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.

Harga minyak bergerak fluktuatif seiring upaya diplomatik baru antara AS dan Iran.  Laporan menyebutkan para mediator mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari antara kedua negara.  Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2% menjadi USD84,91 per barel, sedangkan minyak Brent meningkat 2% ke level USD91,01 per barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak setelah Trump melalui akun Truth Social menyatakan Teheran harus bertanggung jawab atas kematian tiga personel militer AS. Lonjakan harga energi sempat menekan pergerakan indeks utama Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Meski dibayangi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak, pasar saham AS mampu bangkit berkat optimisme terhadap kinerja emiten dan prospek sektor teknologi, khususnya industri semikonduktor.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Sektor Teknologi dan Tambang Solid, Bursa Saham Eropa Berakhir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Asia-Pasifik Kompak Menguat, Nikkei dan Kospi Pimpin Reli Regional

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Ketegangan AS-Iran Kerek Harga Minyak Dunia, Wall Street Kompak Melemah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru