STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak pada akhir perdagangan Senin (20/7/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (21/7/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kematian tiga tentara AS. Ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran menjadi faktor pendorong utama pasar.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik sekitar 1,14 USD atau 1,3%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 89,22 USD per barel, di London ICE Futures Exchange. Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,74 USD atau 0,9%. Minyak WTI berakhir pada posisi 83,23 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Harga Brent sempat melonjak hampir 4% dan menembus 90 USD per barel pada sesi semalam. Hal ini terjadi setelah AS mengonfirmasi kematian tiga anggota layanannya dalam pertempuran dengan Iran. Namun, harga sedikit melandai setelah ada sinyal kemungkinan negosiasi dari pihak Teheran.
Presiden Donald Trump menyampaikan peringatan keras melalui media sosial miliknya. Ia menegaskan Iran akan menerima konsekuensi berat atas tewasnya personel militer AS. “Setiap kali Iran membunuh Tentara Amerika, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat!” ujar Donald. Donald menyebut petunjuk tersebut telah diteruskan kepada Menteri Perang Pete Hegseth. Instruksi serupa diberikan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine serta seluruh pimpinan militer.
Situasi di lapangan terus memanas setelah AS membom wilayah Iran selama sembilan malam berturut-turut. Aksi ini merupakan balasan atas serangan berulang terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Iran dituding mencoba memaksa kapal transit melalui perairan teritorialnya.
Kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Teheran, turut memperkeruh keadaan. Mereka mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Senin waktu setempat. Embargo ini mengancam kelancaran pasokan minyak global yang sebelumnya sudah terganggu di Hormuz. Kelompok Houthi berulang kali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb. Jalur ini sangat vital karena menghubungkan Laut Merah dengan pasar global. Selama ini, Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui pipa ke terminal Laut Merah untuk menghindari konflik.
Serangan terhadap kapal tanker masih terus terjadi di perairan Timur Tengah. Sebuah kapal tanker produk minyak, Kavomaleas, terkena proyektil di lepas pantai Oman pada akhir pekan. Kapal berbendera Malta tersebut mengalami kebakaran hebat menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO).
Iran juga membalas serangan AS dengan menembakkan rudal ke sekutu Washington. Sebuah fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi di Kuwait diserang untuk kedua kalinya dalam dua hari. Kuwait sangat bergantung pada fasilitas tersebut untuk penyediaan air minum bagi warganya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memberikan pernyataan terkait kondisi ini. Esmail menyebut negosiasi dengan AS masih mungkin dilakukan dengan syarat tertentu. “Negosiasi dengan AS dapat dilanjutkan berdasarkan kepentingan Teheran,” ujar Esmail.
Kenaikan harga minyak mentah sebesar 18% bulan ini berdampak langsung pada konsumen. Harga bensin di AS kembali menyentuh level 4 USD per galon pada Senin waktu setempat. Angka ini menyamai level harga pada 17 Juni lalu sebelum adanya kesepakatan sementara.
Amrita Sen, pendiri dan direktur riset di Energy Aspects, memberikan pandangannya terhadap situasi pasar. Ia melihat adanya potensi kenaikan harga yang jauh lebih tinggi jika gangguan pengiriman terus berlanjut. “Pasar masih cukup puas meskipun ada kenaikan harga yang kita lihat,” kata Amrita.
Menurut Amrita, pelambatan lalu lintas di Selat Hormuz dan menipisnya stok global dapat mendorong harga minyak. Ia memprediksi harga si emas hitam ini bisa menembus angka tiga digit atau di atas 100 USD per barel.

