STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia bergerak stabil cenderung melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (21/7/2026) WIB. Para pelaku pasar sedang menimbang dampak konflik Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap harga minyak. Selain itu, sinyal kenaikan suku bunga dari bank sentral AS atau The Fed ikut memengaruhi pergerakan logam mulia ini.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 0,2% ke posisi 4.006,74 USD per ons troi. Penurunan tipis juga terjadi pada pasar berjangka di Amerika Serikat.
Adapun harga kontrak emas AS untuk pengiriman Agustus terpantau tergelincir 0,1%. Logam mulia tersebut berakhir pada level 4.015,90 USD per ons troi.
Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent menembus angka 90 USD per barel. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Giovanni Staunovo, analis dari UBS, memberikan pandangannya mengenai korelasi pasar saat ini.
“Emas tetap berkorelasi negatif dengan harga minyak, dengan pelaku pasar memantau secara ketat perkembangan di Timur Tengah,” ujar Giovanni Staunovo.
Pasukan AS menyerang Iran selama sembilan hari berturut-turut. Kekhawatiran mengenai pengiriman melalui Selat Hormuz meningkat setelah dua kapal tanker minyak meledak. Iran menyebut kedua kapal tersebut telah lumpuh.
Harga minyak sempat mereda setelah juru bicara kementerian luar negeri Iran membuka peluang negosiasi. Iran menyatakan pembicaraan dengan AS dapat dilakukan demi kepentingan nasional mereka. Meski begitu, harga minyak yang tinggi tetap menjadi ancaman bagi inflasi.
Kondisi tersebut memperbesar peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga guna menekan tekanan harga. Emas biasanya berfungsi sebagai lindung nilai inflasi. Namun, suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Presiden Cleveland Fed Beth Hammack menilai suku bunga mungkin perlu naik untuk melawan inflasi yang persisten. Pernyataan ini menambah deretan pejabat Fed yang menginginkan kebijakan moneter lebih ketat. Situasi ini diprediksi memicu perdebatan sengit pada pertemuan Fed berikutnya.
Pertemuan tersebut akan menjadi momen penting kedua bagi Kevin Warsh sejak menjabat sebagai Ketua Fed. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Desember sebesar 80%. Angka ini meningkat dari posisi 73% pada pekan lalu menurut alat CME FedWatch.
Meskipun saat ini tertekan, Giovanni memprediksi emas akan kembali menguat dalam jangka panjang. Ia melihat potensi pelemahan dolar AS akan menjadi tenaga baru bagi logam kuning ini.
“Kami memperkirakan dolar yang lebih lemah akan mendukung harga emas dalam 6-12 bulan, dengan logam kuning diperkirakan bergerak lagi di atas angka 5.000 USD per ons troi,” kata Giovanni.
Tren pelemahan tipis juga merembet ke logam mulia lainnya pada perdagangan yang sama. Harga perak spot tercatat turun 0,23% menjadi 0,1323 USD. Sementara itu, harga platinum spot merosot 0,24% ke posisi 3,9688 USD.

