STOCKWATCH.ID (NEW JERSEY) – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) membuka penyelidikan terhadap tim nasional Argentina menyusul kericuhan yang terjadi setelah final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin dini hari (20/7/2026) WIB. FIFA menunjuk jaksa disiplin dan etik untuk menyelidiki insiden tersebut.
Mengutip BBC, penyelidikan dilakukan setelah sejumlah pemain dan staf Argentina terlibat bentrokan dengan pemain Spanyol usai laga final yang dimenangkan Spanyol dengan skor 1-0. Pemain atau pelatih yang terbukti terlibat berpotensi mendapat sanksi larangan bertanding. Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga dapat dijatuhi denda.
Beberapa nama yang disebut terlibat dalam insiden tersebut antara lain Nahuel Molina, Leandro Paredes, Thiago Almada, dan asisten pelatih Roberto Ayala.
Kericuhan bermula saat para pemain Spanyol merayakan keberhasilan mereka meraih gelar juara dunia. Gelandang Spanyol, Rodri, yang berlari dari bangku cadangan menuju rekan-rekannya, diduga mendapat pukulan di bagian lengan atau perut dari Molina.
Insiden itu memicu konfrontasi antarpemain. Bek Spanyol Eric Garcia kemudian menghampiri untuk membela Rodri. Dalam situasi tersebut, Paredes terlihat mendorong dan menyentuh leher Garcia.
Pemain Spanyol, Gavi, yang mencoba melerai justru terjatuh setelah terlibat kontak dengan Almada. Paredes juga terlihat mendorong Gavi hingga terjatuh ke lapangan.
Roberto Ayala juga tampak terlibat dalam keributan. Ia diduga memegang leher Garcia dan terlihat melakukan kontak dengan gelandang Spanyol Dani Olmo.
Awalnya FIFA melaporkan Paredes mendapat kartu merah dari wasit Slavko Vincic akibat insiden tersebut. Namun, kartu merah itu kemudian dihapus dari catatan pertandingan.
FIFA mengonfirmasi kepada BBC Sport tidak ada tindakan disiplin yang diberikan kepada Paredes pada saat pertandingan berlangsung.
Sebelumnya, Argentina sudah kehilangan satu pemain setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua pada masa tambahan waktu babak kedua.
Mantan striker Inggris, Alan Shearer, mengkritik keras tindakan para pemain Argentina.
“Paredes melepaskan dua atau tiga pukulan ke arah wajah seseorang. Tidak ada tempat untuk tindakan seperti itu,” kata Shearer dalam siaran BBC.
Ia menambahkan, “Kami tahu betapa besar arti pertandingan ini bagi mereka dan betapa sakitnya kalah. Namun, ada cara untuk menerima kekalahan. Reaksi setelah peluit akhir sangat buruk.”
Mantan kiper Inggris, Joe Hart, juga mengecam perilaku tersebut.
“Pertandingan sudah selesai. Mereka sama sekali tidak punya alasan untuk mengeluh. Perilaku itu sangat buruk,” ujar Hart.
Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni berusaha meredam situasi dan menilai timnya tetap menerima hasil pertandingan.
“Kami harus rendah hati saat menang dan juga saat kalah. Hari ini kami menunjukkan jika kami tahu cara menerima kekalahan,” kata Scaloni.
“Kami kalah dan menerimanya. Namun, itu tidak membuat kami melupakan semua perjuangan untuk bisa mencapai tahap ini,” lanjutnya.
Selain kericuhan di final, FIFA juga tengah memproses potensi pelanggaran lain yang melibatkan Argentina. Setelah semifinal melawan Inggris, para pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah milik Argentina”.
Kasus serupa pernah terjadi pada 2014. Saat itu AFA didenda sebesar 20.000 poundsterling setelah para pemain membentangkan spanduk dengan pesan yang sama sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.
FIFA memiliki sejumlah opsi sanksi berdasarkan Pasal 13 Kode Disiplin yang mengatur perilaku ofensif dan prinsip fair play. Tindakan pemain dan ofisial dapat dinilai melanggar aturan dasar perilaku yang pantas serta mencoreng nama sepak bola dan FIFA.
Jaksa disiplin dan etik FIFA akan mempertimbangkan faktor yang memberatkan maupun meringankan sebelum mengambil keputusan.
Hingga kini, FIFA belum menetapkan jadwal penyelesaian investigasi terhadap perilaku tim nasional Argentina.

