STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada penutupan perdagangan hari Senin (20/7/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (21/7/2026) WIB. Pelemahan ini terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia sebagai respons atas ketegangan militer antara AS dan Iran.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York turun 307,16 poin atau 0,59% ke level 51.839.26. Indeks S&P 500 (SPX) juga turun 0,19% dan berakhir di posisi 7.443,28. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, melemah 0,05% menjadi 25.508,07.
Penurunan indeks Dow Jones sangat dipengaruhi oleh anjloknya saham Apple lebih dari 2%. Kenaikan harga minyak menjadi beban utama bagi pasar modal pada awal pekan ini.
Amerika Serikat menyelesaikan hari kesembilan berturut-turut serangan terhadap Iran semalam. Sentimen investor sempat membaik pada tengah pagi di London. Hal ini terjadi setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memberikan harapan terkait penyelesaian diplomatik.
Esmail Baghaei mengatakan kepada wartawan, perantara terus bertukar pesan dengan Iran di tengah putaran terbaru serangan AS. Ia menyebut negosiasi antara kedua musuh tersebut dapat dilanjutkan berdasarkan kepentingan nasional.
Meski demikian, harga minyak kembali melanjutkan kenaikannya. Kondisi ini dipicu oleh unggahan Presiden Donald Trump di akun Truth Social miliknya. Trump menulis Iran akan membayar kematian tiga anggota layanan AS berkali-kali lipat.
Harga minyak mentah berjangka AS ditutup naik 0,9% menjadi 83,23 USD per barel. Sementara itu, patokan internasional minyak mentah Brent menetap di level 89,22 USD atau naik sekitar 1,3%. Selain itu, kelompok Houthi di Yaman juga mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Adam Crisafulli dari Vital Knowledge memberikan analisanya mengenai situasi ini. Ia menilai investor masih ragu terhadap langkah militer yang lebih jauh.
“Investor masih tidak berpikir Trump memiliki toleransi terhadap eskalasi kekuatan militer AS yang signifikan di Timur Tengah (misalnya mengerahkan pasukan). Jika itu masalahnya, maka beberapa jenis resolusi diplomatik tidak dapat dihindari,” tulis Adam.
Di tengah pelemahan indeks utama, produsen cip mencoba bangkit dari kerugian besar pekan lalu. Saham Micron Technology memimpin penguatan dengan kenaikan hampir 2%. Astera Labs naik 1,9%, Teradyne melonjak 3,5%, dan Advanced Micro Devices (AMD) bertambah 1,6%.
Darrell Cronk, Presiden Wells Fargo Investment Institute sekaligus Chief Investment Officer for Wealth and Investment Management, memberikan komentarnya. Menurutnya, pasar sedang melakukan penyesuaian.
“Perdagangan semikonduktor dan AI sedang mengalami pemeriksaan realitas yang sehat. Penurunan teknis baru-baru ini meningkatkan risiko penarikan yang lebih dalam menuju level dukungan jangka panjang, termasuk rata-rata pergerakan 200 hari,” ujar Darrell.
Darrell menambahkan, pantulan taktis jangka pendek tidak akan mengejutkan mengingat kondisi pasar yang sudah jenuh jual. Namun, ia melihat tren kenaikan jangka menengah telah terganggu.
Ketiga indeks utama AS sebelumnya juga ditutup di zona merah pada pekan lalu. Tekanan pada saham-saham cip terus membebani sentimen pasar secara keseluruhan. Dana yang diperdagangkan di bursa semikonduktor, VanEck Semiconductor ETF (SMH), tercatat mengalami penurunan mingguan ketiga dalam empat minggu terakhir.

