STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Chief Investment Office DBS merekomendasikan investor mengoptimalkan momentum dari tren penggerak pasar pada kuartal III 2026. Inflasi, ketegangan geopolitik, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan perubahan arah kebijakan bank sentral menjadi faktor utama yang perlu dicermati dalam menyusun portofolio investasi.
Dalam laporan rekomendasi investasi kuartal III 2026 yang dikutip Selasa (30/6/2026), DBS menilai berbagai perkembangan selama 18 bulan terakhir telah mendorong investor meninjau kembali asumsi lama dalam pengelolaan portofolio.
Menurut DBS, kesenjangan antara ekspektasi politik dan hasil kebijakan semakin melebar, terutama terkait geopolitik, disiplin fiskal, dan inflasi. Bauran kebijakan Amerika Serikat dinilai meningkatkan risiko geopolitik, mendorong belanja pertahanan lebih tinggi, serta memperlebar defisit fiskal secara struktural.
“Perkembangan ini mengarah pada rezim makro yang lebih rentan terhadap inflasi dibandingkan dengan yang saat ini diperhitungkan oleh pasar,” tulis DBS.
DBS juga menyoroti konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang meningkatkan risiko harga energi bertahan tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi itu diperparah oleh menurunnya persediaan minyak dan meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Selain energi, investasi AI dalam skala besar dinilai berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek. Pembangunan infrastruktur AI meningkatkan permintaan perangkat lunak, komponen elektronik, hingga konsumsi listrik. Di sisi lain, keluarnya Tiongkok secara bertahap dari deflasi juga diperkirakan menambah tekanan inflasi.
Perkembangan tersebut mendorong bank-bank sentral utama mengadopsi sikap yang lebih hawkish. DBS mencatat sinyal terbaru dari Federal Reserve, European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BOE) menunjukkan perubahan arah menuju kebijakan yang lebih hawkish atau netral. Pasar juga mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Dalam kondisi tersebut, DBS menilai kerangka investasi tradisional 60/40 semakin menghadapi tantangan karena korelasi saham dan obligasi tetap tinggi saat inflasi meningkat.
“Dengan obligasi yang tidak lagi memberikan perlindungan andal untuk penurunan nilai, investor jadi membutuhkan diversifikasi investasi alternatif,” tulis DBS.
DBS menyebut emas telah menjalankan fungsi tersebut dengan baik. Selain emas, eksposur secara selektif pada komoditas dan saham domestik Tiongkok juga dinilai mampu memberikan manfaat diversifikasi karena memiliki korelasi lebih rendah terhadap saham global.
Di sisi lain, DBS melihat perekonomian global memasuki siklus baru belanja modal yang didorong ekspansi AI dan sektor energi. Karena itu, DBS lebih memilih perusahaan penyedia sarana penunjang atau pick-and-shovel, terutama pada ekosistem semikonduktor, jaringan dan perangkat keras khusus, serta penyedia jasa dan peralatan minyak.
Untuk alokasi lintas aset, DBS mempertahankan posisi netral terhadap saham dan obligasi. Menurut DBS, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih didukung konsumsi yang kuat, ekspor energi, dan investasi, termasuk belanja modal AI. Konsensus juga memperkirakan pertumbuhan laba global tetap kuat pada 2026 dan 2027.
Pada pasar saham, DBS menilai momentum masih menjadi pendorong utama. Reli sejak akhir Maret terutama dipimpin saham-saham terkait AI. Karena itu, DBS menyarankan strategi barbell, yakni menggabungkan eksposur pada saham AI dengan sektor yang memiliki paparan teknologi lebih rendah.
DBS juga menyarankan investor memilih perusahaan dengan intensitas penggunaan energi yang rendah karena harga minyak yang tinggi berpotensi menekan margin pada sektor-sektor yang sensitif terhadap energi.
Untuk obligasi, DBS memperkirakan imbal hasil masih berpotensi naik seiring tekanan inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga di negara maju. Dalam kredit korporasi, DBS tetap memilih obligasi berdurasi lima hingga tujuh tahun.
Di pasar berkembang, DBS menilai selektivitas menjadi faktor utama. Pasar yang lebih menarik adalah yang memiliki kemandirian energi, kredibilitas kebijakan, serta kompensasi risiko yang memadai. Investor juga disarankan memilih penerbit obligasi dengan fundamental kuat dan kemampuan membayar utang yang baik. Selain itu, DBS melihat peluang pada instrumen Additional Tier 1 (AT1) yang diperkirakan memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga melalui ekspansi margin.
Untuk aset alternatif, DBS tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas meski menghadapi tantangan inflasi dalam jangka menengah.
“Meskipun ada tantangan inflasi jangka menengah, kami tetap mempertahankan sikap konstruktif terhadap emas mengingat adanya pendorong struktural seperti dedolarisasi dan penurunan nilai intrinsik mata uang,” tulis DBS.
Pada pasar swasta, DBS menilai meningkatnya disrupsi AI dan ketidakpastian makro membuat selektivitas semakin penting. Investor disarankan berfokus pada manajer investasi dan aset berkualitas tinggi, serta meningkatkan paparan pada skema co-investment yang dinilai memiliki potensi kinerja lebih baik.

