STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) bursa saham Amerika Serikat bergerak menguat pada Rabu (17/6/2026) malam waktu setempat atau Kamis pagi (18/6/2026) WIB. Pergerakan ini terjadi setelah indeks utama Wall Street mengalami aksi jual besar-besaran akibat sinyal kenaikan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, futures yang terikat dengan indeks Dow Jones Industrial Average naik 73 poin atau sedikit di atas 0,1%. S&P 500 futures dan Nasdaq 100 futures juga masing-masing merangkak naik 0,2% dan 0,4%.
Sebelumnya, pasar modal AS terguncang oleh hasil rapat kebijakan moneter perdana di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Bank sentral memutuskan menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Namun, proyeksi ekonomi melalui “dot plot” menunjukkan beberapa pejabat The Fed kini melihat adanya kenaikan suku bunga pada 2026. Estimasi median suku bunga akhir tahun naik menjadi 3,8% dari proyeksi sebelumnya 3,4% pada Maret lalu. Hal ini mengisyaratkan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga tahun ini.
Proyeksi pasar sempat dibuat bingung oleh keputusan Warsh. Ia memilih abstain dalam menyerahkan perkiraan suku bunga pribadinya.
Sonu Varghese, Chief Macro Strategist di Carson Group, memberikan komentarnya terkait situasi ini. Ia menilai inflasi yang masih tinggi menjadi alasan di balik sikap bank sentral tersebut.
“The Fed menahan suku bunga tetap stabil tetapi merusak suasana dengan dot plot yang jauh lebih hawkish. Inflasi yang tinggi membuat hal itu dapat dimengerti, tetapi komite jauh dari kata bersatu, dengan hanya sekitar setengahnya yang masih memperkirakan kenaikan suku bunga akhir tahun ini,” ujar Varghese.
Varghese menambahkan poin yang lebih besar adalah kebijakan saat ini masih terlihat longgar. Padahal, inflasi tetap menjadi masalah dan pasar tenaga kerja mulai stabil.
Aksi jual pada perdagangan reguler Rabu (17/6/2026) membuat indeks Dow Jones anjlok 507,12 poin atau 0,98%. Padahal, indeks tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi intraday baru pada hari yang sama. S&P 500 merosot 1,21% dan Nasdaq Composite jatuh 1,34%.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi melonjak tajam. Imbal hasil Treasury tenor dua tahun sempat menyentuh level tertinggi pada angka 4,22%.
David Zervos, Chief Market Strategist di Jefferies, menyoroti adanya faktor perubahan kepemimpinan di bank sentral AS. Hal ini ia sampaikan dalam program “Closing Bell: Overtime” di CNBC.
“Pasar tidak menyukai pergantian rezim,” ungkap Zervos singkat.
Investor kini bersiap memantau laporan keuangan terbaru dari Accenture dan Kroger yang akan dirilis sebelum pembukaan perdagangan Kamis. Selain itu, pasar akan mencermati data indikator ekonomi Mei dan angka Indeks Fed Philadelphia untuk bulan Juni. Data klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 13 Juni juga menjadi perhatian para pelaku pasar.

