spot_img

Wall Street Lanjutkan Tren Penurunan Jelang Banjir Laporan Keuangan

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (22/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (23/7/2026) WIB. Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap arah suku bunga kembali menekan pergerakan pasar.

Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York turun 6,06 poin atau 0,01% ke level 52.218,58. Indeks S&P 500 (SPX) terkoreksi 0,14% dan berakhir di posisi 7.498,96. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi melemah 0,57% menjadi 25.690,90.

Tekanan terhadap pasar muncul setelah harga minyak dunia kembali melonjak. Kontrak minyak mentah Brent naik sekitar 3,4% dan ditutup di level USD94,07 per barel. Harga sempat menembus USD95 per barel, tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 3% menjadi USD86,83 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu berlanjutnya serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Serangan tersebut menjadi putaran ke-11 secara berturut-turut dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan negaranya akan tetap melindungi kepentingan dan jalur pelayaran internasional.

“Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan kepentingan sekutu kami,” ujar Rubio.

Rubio juga menegaskan militer AS akan terus menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga.

Senior Portfolio Manager Globalt Investments, Thomas Martin, menilai inflasi masih menjadi tantangan bagi The Fed.

“Inflasi jelas masih tinggi dan saya tidak berpikir ada banyak hal yang dapat dilakukan The Fed untuk mengatasinya,” kata Martin.

Ia menambahkan, “Hal yang benar-benar membebani pasar adalah ke mana arah suku bunga dari sini.”

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mencapai hampir 34%, naik dari sekitar 10% sepekan lalu.

Pasar juga memperkirakan peluang sebesar 78% untuk kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada September mendatang.

Selain isu suku bunga, investor juga menanti gelombang laporan keuangan emiten besar AS. Sejumlah perusahaan yang dijadwalkan merilis kinerja antara lain Alphabet, Tesla, International Business Machines (IBM), Texas Instruments, dan ServiceNow.

Pelaku pasar akan mencermati belanja kecerdasan buatan (AI), permintaan layanan komputasi awan, serta anggaran teknologi perusahaan untuk semester II-2026.

Martin mengatakan investor kini fokus pada prospek pertumbuhan jangka panjang sektor AI.

“Semuanya benar-benar soal pesanan. Semua orang akan mengawasi perusahaan hyperscalers,” ujar Martin.

Di sisi korporasi, saham Super Micro Computer melonjak hampir 20% setelah perusahaan memperkirakan margin kuartal IV fiskal lebih tinggi dari ekspektasi. Perusahaan juga mengungkapkan telah menerima pesanan baru lebih dari USD60 miliar selama periode tersebut.

Saham AT&T naik 3,5% setelah membukukan laba kuartal II-2026 yang melampaui perkiraan pasar. Sebaliknya, saham GE Vernova anjlok lebih dari 8% setelah laporan keuangan kuartal II perusahaan berada di bawah ekspektasi analis.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ditopang Lonjakan Saham Energi, Bursa Eropa Kompak Ditutup Menguat

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Asia Bervariasi: Indeks Taiwan Melaju Berkat Tren AI, China dan Hong Kong Terkoreksi

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup...

Akhiri Tren Pelemahan, Wall Street Berhasil Rebound Ditopang Lonjakan Saham Semikonduktor

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru