back to top

Bursa Saham Eropa Tertekan Gara-Gara Inflasi AS Naik Di Luar Perkiraan

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa Saham Eropa mengalami tekanan berat pada penutupan perdagangan hari Kamis (10/10/2024) waktu setempat. ini dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan membuat investor khawatir

Mengutip CNBC International, Indeks regional Stoxx 600, yang melacak kinerja saham-saham di seluruh Eropa, ditutup turun 0,18%. Sebagian besar sektor dan bursa utama Eropa berada di zona merah. Indeks CAC 40 di Prancis dan indeks DAX di Jerman masing-masing terkoreksi sekitar 0,23%. Sementara itu, indeks FTSE 100 di Inggris tercatat turun 0,07%.

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah inflasi di AS pada bulan September tercatat naik 0,2% secara bulanan, melebihi prediksi para ekonom. Secara tahunan, inflasi AS mencapai 2,4%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan 2,3%. Data ini memicu ketakutan bahwa kebijakan moneter Federal Reserve bisa berubah lebih agresif.

“Ini adalah data yang tidak diharapkan, dan membuat investor menilai ulang langkah-langkah suku bunga di masa mendatang,” ujar seorang analis pasar. Data inflasi ini akan menjadi acuan utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan bulan November. Berdasarkan perdagangan Fed funds futures, peluang pemotongan suku bunga 0,25% kini mencapai 70%.

Meski banyak sektor tertekan, saham asuransi justru mencatat kenaikan 1,06%. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi peningkatan keuntungan di sektor tersebut setelah Badai Milton menghantam Florida. Namun, saham teknologi melemah 1%, menghapus keuntungan yang sebelumnya tercatat awal pekan ini.

Sementara itu, saham GSK, perusahaan farmasi asal Inggris, mengalami lonjakan 3,2%. Kenaikan ini terjadi setelah GSK mencapai kesepakatan untuk membayar hingga US$2,2 miliar guna menyelesaikan gugatan di Amerika Serikat terkait obat asam lambung Zantac.

Kabar dari Jerman juga memberikan tekanan tambahan pada pasar Eropa. Pemerintah Jerman memperkirakan negara tersebut akan mengalami resesi selama dua tahun berturut-turut, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam dua dekade terakhir. Kekhawatiran resesi ini menambah ketidakpastian di tengah inflasi yang membandel di AS.

Mayoritas anggota rapat Federal Reserve mendukung pemangkasan suku bunga yang lebih besar untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah inflasi yang terus meningkat.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perang Timur Tengah Makin Panas, Bursa Saham Eropa Rontok Berjamaah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Abaikan Perang Iran, Wall Street Melesat Berjamaah! Indeks Dow Jones Lompat 200 Poin Lebih

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru