STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat kinerja positif pada kuartal I-2026. Di saat yang sama, tiga proyek strategis panas bumi milik perseroan berhasil memperoleh dukungan pendanaan internasional senilai total USD477,87 juta. Informasi tersebut disampaikan perusahaan dan dikutip Minggu (7/6/2026).
Dukungan pendanaan diperoleh setelah tiga proyek PGEO masuk dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). Masuknya proyek ke dalam daftar tersebut menandakan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGEO membukukan laba bersih sebesar USD43,90 juta. Angka ini meningkat 40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD31,35 juta.
Pendapatan perseroan juga naik 14,8% menjadi USD116,56 juta dari sebelumnya USD101,51 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perusahaan.
Kinerja positif itu ditopang oleh pertumbuhan produksi yang konsisten. Pada 2025, PGEO mencatat produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high sebesar 5.095 gigawatt hour (GWh), naik 5,55% dibandingkan 4.827 GWh pada 2024.
Tren pertumbuhan berlanjut pada kuartal I-2026. Produksi listrik meningkat 15,22% secara tahunan menjadi 1.370 GWh.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani mengatakan, masuknya proyek-proyek PGEO ke dalam Green Book 2026 menjadi pengakuan atas kesiapan proyek untuk melangkah ke tahap pengembangan berikutnya di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan ketahanan energi global.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE. Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional yang dapat mendukung percepatan realisasi proyek, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, penguatan fundamental bisnis yang didukung portofolio proyek yang semakin matang akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Tiga proyek yang masuk Green Book 2026 terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, serta PLTP Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW.
Ahmad mengatakan, masuknya ketiga proyek tersebut ke dalam Green Book diharapkan membantu perusahaan mempertahankan cost of debt yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
“Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan,” kata Ahmad.
Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek-proyek nasional yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri yang dikoordinasikan Pemerintah Indonesia bersama berbagai mitra pembangunan internasional. Daftar tersebut disusun berdasarkan Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep.52/M.PPN/IIK/06/2026.
Sebelumnya, ketiga proyek tersebut telah masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025-2029 atau Blue Book Bappenas setelah memenuhi berbagai aspek kesiapan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan.
Adapun total pinjaman yang tercantum dalam Green Book 2026 mencapai USD477,87 juta dengan rincian sebagai berikut:
- PLTP Lumut Balai Unit 3, target COD 2030, memperoleh pendanaan USD158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
- PLTP Lumut Balai Unit 4, target COD 2032, memperoleh pendanaan USD148,97 juta dari JICA.
- PLTP Lahendong Unit 7-8, target COD 2030, memperoleh pendanaan USD170,04 juta dari World Bank.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari peta jalan PGEO untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek itu akan menambah pasokan listrik rendah emisi sekaligus memperkuat peran energi panas bumi dalam bauran energi nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi PGEO di Sumatera. Kedua proyek tersebut juga telah memiliki Power Purchase Agreement (PPA). Sementara PLTP Lumut Balai Unit 4 telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.
Di sisi lain, penambahan kapasitas melalui PLTP Lahendong Unit 7-8 dan Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, diproyeksikan meningkatkan kontribusi PGEO terhadap kebutuhan listrik Sulawesi Utara dari sekitar 30% menjadi 35%-40% dari total kebutuhan listrik wilayah tersebut.
Sejalan dengan pengembangan tersebut, PGEO terus fokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.
“Kami meyakini bahwa setiap pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi lokal, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri,” ujar Ahmad.

