spot_img

Badai AI Wall Street Hantam Asia, Saham Korea Selatan Terjun Bebas 5%

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak melemah pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks saham Korea Selatan memimpin penurunan tajam di kawasan ini. Sentimen negatif muncul seiring merosotnya saham teknologi di Wall Street yang merembet ke pasar Asia.

Mengutip laporan CNBC International, indeks Kospi Korea Selatan berakhir anjlok 5,54% ke level Rp 8.160,59. Saham-saham raksasa teknologi seperti Samsung Electronics jatuh 6,40%. Saham SK Hynix juga terperosok hingga 9,92%. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil turun 4,50%.

Tekanan pada sektor teknologi Korea Selatan juga dipicu pernyataan Menteri Tenaga Kerja negara tersebut. Ia mendesak perusahaan teknologi besar membagikan lebih banyak keuntungan dari lonjakan chip AI. Langkah ini perlu dilakukan untuk mencegah ketimpangan pendapatan yang semakin parah.

Menteri Tenaga Kerja Korea Selatan meminta perusahaan “mendistribusikan lebih banyak keuntungan dari lonjakan semikonduktor yang didorong oleh AI dengan pekerja dan pemasok.” Ia menyebut rekor keuntungan perusahaan “berisiko memperburuk ketimpangan pendapatan.”

Bursa Jepang turut mencatatkan kinerja negatif. Indeks Nikkei 225 turun 1,31% dan berakhir di posisi Rp 66.588,12. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 merosot 0,70% ke level Rp 8.625,10.

Pasar saham China juga tertekan cukup dalam. Indeks CSI 300 jatuh 1,79% ke level Rp 4.816,92. Indeks Hang Seng di Hong Kong pun melemah 1,11% pada jam terakhir perdagangan.

Di India, indeks Nifty 50 sedikit lebih rendah dalam perdagangan yang fluktuatif. Sementara itu, indeks BSE Sensex terpantau jalan di tempat hingga pukul 13:00 waktu setempat.

Kondisi ini dipicu oleh pergerakan pasar saham Amerika Serikat (AS) semalam. Indeks Dow Jones Industrial Average memang melonjak ke rekor tertinggi baru di level Rp 51.561,93. Namun, indeks Nasdaq justru memerah karena investor mulai keluar dari saham chip dan beralih ke saham non-teknologi.

Aksi jual saham teknologi ini bermula dari anjloknya Broadcom. Saham perusahaan chip tersebut merosot lebih dari 12% setelah pendapatan kuartal keduanya meleset dari perkiraan. Hal ini membuat investor mengurangi investasi pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).

Saham-saham chip lainnya ikut terseret turun. Arm Holdings jatuh lebih dari 4%, sedangkan Micron Technology anjlok mendekati 8%. ETF Semikonduktor VanEck (SMH) juga kehilangan nilai lebih dari 1%.

Selain faktor teknologi, kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah turut membebani pasar. Muncul pesan-pesan yang beragam dari negosiasi untuk mengakhiri perang. Situasi ini mengganggu pasar global dan menyebabkan lonjakan harga minyak serta bensin.

- Advertisement -

Artikel Terkait

AS-Iran Kembali Saling Serang, Aktivitas Kapal di Selat Hormuz Merosot Tajam

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali...

Wall Street Menguat, Saham Semikonduktor Melonjak di Tengah Ketegangan AS-Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Saham Eropa Menguat, Sektor Sumber Daya Dasar Meroket 3,2%

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru