spot_img

OPEC+ Kembali Kerek Produksi, Harga Minyak Dunia Merosot 2%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2% pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (7/6/2026). Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya kepercayaan pedagang terkait berkurangnya kemungkinan konflik baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 1,94 USD atau 2,04%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 93,09 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Sebelum perang dimulai, harga Brent berada di kisaran 72 USD per barel.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 2,50 USD atau 2,69%. Minyak WTI berakhir pada posisi 90,54 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Di sisi lain, kelompok negara produsen minyak OPEC+ sepakat melakukan kenaikan keempat pada target produksi minyak mereka. Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan pada hari Minggu (7/6/2026). Langkah ini tetap diambil meskipun perang AS dengan Iran masih menghambat beberapa anggota untuk memompa lebih banyak minyak.

Perang tersebut telah memotong aliran minyak melalui Selat Hormuz. Hal ini menciptakan krisis pasokan terbesar di dunia. Anggota utama OPEC+, termasuk Arab Saudi, belum mampu memasok pelanggan secara penuh sejak akhir Februari.

Krisis bagi kelompok ini semakin dalam setelah Uni Emirat Arab (UEA) meninggalkan OPEC. Negara tersebut keluar setelah bergabung selama hampir 60 tahun.

Jorge Leon, seorang analis di Rystad dan mantan pejabat OPEC, memberikan pandangannya. Ia menyebut kenaikan produksi tidak banyak berarti selama jalur distribusi utama masih terganggu.

“Peningkatan produksi OPEC+ sangat sedikit artinya selama Selat Hormuz tetap tertutup,” ujar Jorge Leon.

Leon menambahkan kondisi pasar bisa berubah drastis jika jalur tersebut kembali aktif. “Ketika Selat Hormuz dibuka kembali, pasar dapat bergerak sangat cepat dari ketakutan akan kekurangan menjadi ketakutan akan kelebihan pasokan,” tambah Leon.

Data OPEC menunjukkan produksi grup tersebut sebenarnya telah merosot akibat pemotongan ekspor oleh anggota Teluk. Produksi rata-rata pada April hanya mencapai 33,19 juta barel per hari (bpd). Angka ini turun jauh dari posisi Februari sebesar 42,77 juta bpd.

Sebanyak tujuh anggota inti OPEC+ memutuskan menaikkan target sebesar 188.000 bpd mulai Juli. Angka kenaikan ini sama dengan kenaikan pada bulan Juni. Sebelumnya, target kenaikan bulanan sempat mencapai 206.000 bpd pada Mei dan April sebelum disesuaikan karena keluarnya UEA.

Ketujuh negara tersebut meningkatkan produksi sebagai bagian dari pemulihan bertahap atas pemangkasan 1,65 juta bpd yang disepakati pada 2023. Mulai Juli, ketujuh negara ini memiliki sekitar 567.000 bpd dari pemotongan asli untuk dikembalikan ke pasar.

Proses pemulihan ini diprediksi selesai pada akhir September jika OPEC+ tetap berpegang pada kenaikan bulanan sebesar 188.000 bpd. Tujuh negara yang bertemu pada hari Minggu adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.

Dalam pertemuan terpisah dengan seluruh anggota OPEC+, para menteri tidak melakukan perubahan pada kebijakan output kelompok hingga akhir 2026. OPEC+ juga tengah meninjau kapasitas produksi minyak anggotanya sebagai acuan untuk tahun 2027. Kelompok ini menegaskan pentingnya menyelesaikan penilaian tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Suku Bunga AS Berpotensi Naik Lagi, Harga Emas Terperosok di Tengah Perang Timur Tengah

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot pada perdagangan Jumat...

Harapan Damai di Timur Tengah Bersemi, Harga Emas Dunia Mulai Mendaki

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak penguatan...

Trump Enggan Lanjutkan Perang dengan Iran, Harga Minyak Dunia Melandai 3%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 3%...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru