spot_img

Trump Enggan Lanjutkan Perang dengan Iran, Harga Minyak Dunia Melandai 3%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 3% pada akhir perdagangan Kamis (4/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (5/6/2026) WIB. Penurunan ini dipicu laporan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump enggan melanjutkan perang skala penuh dengan Iran. Melunaknya sikap pemimpin AS ini memberikan angin segar bagi stabilitas pasokan energi global.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 2,45 USD atau 2,50%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 95,03 USD per barel di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 2,98 USD atau 3,1%. Minyak WTI berakhir pada posisi 93,04 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Sentimen pasar membaik setelah Trump menyampaikan pesan kepada para pembantunya. Ia menilai gencatan senjata dengan Iran yang telah berlangsung selama berminggu-minggu masih tetap bertahan. Kabar ini pertama kali diungkap oleh pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada The Wall Street Journal.

Trump tetap memantau situasi di lapangan meski sempat terjadi bentrokan sporadis. Pemimpin AS tersebut hanya akan mempertimbangkan untuk mengakhiri gencatan senjata jika Iran membunuh tentara Amerika. Kepastian ini mendinginkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak di Timur Tengah.

Gedung Putih menolak memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut saat dikonfirmasi oleh CNBC. Namun, seorang pejabat Gedung Putih memberikan sedikit gambaran mengenai arah kebijakan pemerintah. Ia menegaskan posisi presiden terhadap upaya perdamaian di kawasan tersebut.

“Meskipun Trump selalu lebih menyukai solusi diplomatik, ia telah memperjelas konsekuensi jika Iran menolak untuk membuat kesepakatan,” ujar pejabat tersebut.

Peluang kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran kini semakin terbuka lebar. Hal ini menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu lalu. Langkah tersebut dinilai strategis untuk meredam tensi geopolitik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti implementasi gencatan senjata di Lebanon. Kelompok milisi Hizbullah selama ini beroperasi secara independen dari pemerintah pusat di Beirut. Iran merupakan pendukung utama kelompok yang kerap terlibat kontak senjata dengan Israel tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan penekanan terhadap kondisi keamanan di wilayahnya. Ia tetap menuntut adanya tindakan tegas terhadap kelompok milisi tersebut demi menjaga stabilitas nasional.

“Kita harus melucuti senjata Hizbullah dan kita harus mendemiliterisasi Lebanon,” tegas Netanyahu.

Di dalam negeri AS, Trump menghadapi tekanan politik yang semakin kuat dari Kongres yang dipimpin Partai Republik. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS baru saja mengesahkan resolusi pada hari Rabu. Resolusi tersebut mendesak presiden menarik pasukan atau mencari persetujuan Kongres untuk melanjutkan konflik.

Meski resolusi ini masih harus melewati tingkat Senat, peluang keberhasilannya dinilai sangat kecil. Trump diprediksi akan menggunakan hak veto untuk membatalkan langkah legislatif tersebut. Namun, tekanan ini menunjukkan dinamika politik AS juga menginginkan penyelesaian konflik tanpa perang terbuka.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harapan Damai di Timur Tengah Bersemi, Harga Emas Dunia Mulai Mendaki

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak penguatan...

Suku Bunga Berpotensi Melambung Akibat Perang, Harga Emas Dunia Langsung Merosot

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia terpantau merosot pada...

Netanyahu Sebut Iran ‘Bermain Api’, Harga Minyak Dunia Langsung Melompat

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru