STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT PAM Mineral Tbk (NICL) akan membagikan dividen interim kepada para pemegang saham untuk periode buku yang berakhir 31 Maret 2025. Keputusan ini telah disetujui oleh dewan direksi perusahaan.
Dividen yang dibagikan sebesar Rp15 per saham. Jika dikalikan dengan total saham, nilai dividen yang dibayarkan mencapai Rp159,53 miliar. Jumlah ini setara 82,60% dari laba bersih periode berjalan NICL yang tercatat sebesar Rp193,13 miliar per Maret 2025. Adapun hingga akhir Maret 2025, Perseroan berhasil mencatat kenaikan laba 1.481% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp12,27 miliar.
Dalam laporan keuangan perusahaan, tercatat penjualan naik signifikan menjadi Rp543,91 miliar. Capaian ini melonjak 365,68% dibandingkan penjualan pada Maret 2024 yang sebesar Rp116,79 miliar.
Pemegang saham yang ingin mendapatkan dividen harus mencatatkan kepemilikannya paling lambat pada 24 Juni 2025 pukul 16.00 WIB. Cum date di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 20 Juni 2025, sementara ex date-nya jatuh pada 23 Juni 2025. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 30 Juni 2025.
Selama 3 tahun terakhir, NICL konsisten membagikan dividen. Untuk tahun buku 2022, perusahaan membagikan Rp29,17 miliar dengan payout ratio 19,42%. Tahun buku 2023 meningkat menjadi Rp37,22 miliar atau setara 137,18%. Sedangkan tahun buku 2024 mencapai Rp127,62 miliar dengan payout ratio 40,04%.
Konsistensi ini membuat pasar merespons positif. Sejak awal tahun, saham NICL melonjak hampir 400%. Pada penutupan perdagangan 12 Juni 2025, saham NICL tercatat di level Rp1.275. Dengan harga ini, dividend yield untuk dividen interim mencapai 1,18%.
Direktur Utama NICL, Ruddy Tjanaka, menyebut kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan sehat. Ia memastikan pembayaran dividen tidak akan mengganggu operasional.
“Menilik kondisi keuangan Perseroan dalam kondisi baik, dimana kebutuhan operasional dapat dipenuhi dari dana kas internal yang saat ini dalam kondisi surplus, sehingga pembayaran dividen interim ini tidak akan mengganggu kegiatan operasional Perseroan dan dapat memenuhi kewajiban kepada kreditor,” ujar Ruddy, Minggu (15/6/2025).
NICL menargetkan produksi sebesar 809.875 WMT pada 2025. Target dari Izin Usaha Pertambangan (IUP) mencapai 1.798.791 WMT. Penjualan ditargetkan mencapai 2,6 juta ton bijih nikel dengan kadar 1,3%–1,65% Ni.
Perusahaan juga tengah melanjutkan kegiatan pengeboran untuk memperkuat cadangan mineral. Selain itu, NICL memperkuat penerapan prinsip ESG dan GCG, serta melakukan pembaruan studi kelayakan, meningkatkan kapasitas anak usaha, dan merawat laboratorium QAQC.
Digitalisasi juga menjadi fokus perusahaan melalui pengembangan bank data berbasis algoritma. Akuisisi PT Sumber Mineral Abadi ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Untuk strategi jangka panjang, NICL fokus pada eksplorasi berkelanjutan dan peningkatan produksi. Perusahaan juga menargetkan perpanjangan IUP hingga 2035 dan revisi dokumen FS serta AMDAL.
Dari sisi pemasaran, NICL akan memperluas jaringan ke smelter dan trader di Sulawesi dan Halmahera. Peluang kemitraan strategis terus dijajaki untuk mempercepat ekspansi dan menciptakan nilai tambah.
Dengan strategi tersebut, NICL optimistis dapat menjaga pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat kontribusi terhadap industri dan para pemangku kepentingan.
