STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir terus menunjukkan penguatan. Lonjakan ini tidak lepas dari peran saham-saham milik para konglomerat besar Tanah Air.
Emiten milik Prajogo Pangestu lewat Grup Barito menjadi motor utama pendorong indeks. Saham-saham seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) kompak mencatatkan kenaikan signifikan.
Tak hanya Grup Barito, saham milik Toto Sugiri juga ikut mendongkrak IHSG. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu kontributor besar terhadap penguatan indeks belakangan ini.
Saham konglomerat lain seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik Sugianto Kusuma alias Aguan juga tak kalah panas. Kenaikan harga saham mereka ikut menyumbang sentimen positif yang mendorong IHSG semakin perkasa.
Menanggapi hal ini, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna angkat bicara. Ia menyampaikan bahwa penguatan indeks akibat saham-saham konglomerat merupakan bagian dari dinamika pasar yang terbentuk secara organik.
“Pergerakan harga saham di pasar sangat ditentukan oleh mekanisme supply and demand serta pertimbangan investor atas informasi yang tersedia di publik, baik terkait kinerja keuangan, rencana bisnis, maupun sentimen global dan domestik,” kata Nyoman, di Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Ia juga menegaskan bahwa BEI tidak membeda-bedakan emiten berdasarkan siapa pemilik atau pengendali sahamnya. Semua emiten diperlakukan sama.
“Sebagai self-regulatory organization (SRO), BEI tidak memiliki kebijakan yang membedakan emiten berdasarkan kepemilikan atau afiliasi pemegang saham pengendalinya. Kami memperlakukan seluruh emiten secara setara dan memastikan bahwa seluruh transaksi dilakukan berdasarkan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi,” jelasnya.
Selama pergerakan saham terjadi secara wajar dan transparan, maka menurut BEI hal tersebut merupakan dinamika pasar yang sah.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya selalu bekerja sama dengan OJK dan lembaga terkait lainnya dalam menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
“BEI senantiasa menjalankan perannya sebagai penyelenggara perdagangan efek sehingga dapat berjalan secara teratur, wajar, dan efisien,” ungkap Nyoman.
Ia pun mengingatkan investor agar tetap waspada dan melakukan analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan.
“Kami mengimbau agar seluruh investor selalu melakukan analisis yang cermat, memperhatikan aspek fundamental dan risiko investasi, serta memanfaatkan informasi yang tersedia secara publik dalam membuat keputusan investasinya,” tutupnya.
