STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (4/11/2025) waktu setempat atau Rabu pagi (5/11/2025) WIB. Pasar saham Amerika Serikat tertekan oleh penurunan saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) seperti Palantir. Kekhawatiran investor terhadap valuasi yang dinilai terlalu tinggi pada saham teknologi membuat pergerakan pasar berbalik negatif.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York tergelincir 251,44 poin atau 0,53% dan berakhir di 47.085,24. Indeks S&P 500 (SPX) melemah 80,42 poin atau 1,17% menjadi 6.771,55. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, merosot 486,09 poin atau 2,04% ke level 23.348,63.
Saham Palantir anjlok sekitar 8% meski perusahaan perangkat lunak itu mencatat kinerja lebih baik dari perkiraan Wall Street untuk kuartal III dan memberikan panduan optimistis berkat pertumbuhan bisnis AI. Saham Palantir yang telah naik lebih dari 150% sepanjang tahun ini kini diperdagangkan di atas 200 kali laba per saham ke depan.
Kondisi ini mencerminkan ekspektasi besar investor terhadap peningkatan signifikan laba dan pendapatan emiten-emiten AI agar valuasinya tetap masuk akal.
Saham Oracle yang memiliki rasio P/E ke depan lebih dari 33 ikut turun hampir 4%, menghapus sebagian kenaikan hampir 50% sepanjang tahun ini. Sementara itu, saham produsen chip AMD merosot hampir 4%. Penurunan juga dialami raksasa teknologi lain seperti Nvidia dan Amazon.
Lonjakan harga saham-saham AI sebelumnya telah mendorong rasio harga terhadap laba (P/E) ke depan S&P 500 naik di atas 23 kali, mendekati level tertingginya sejak tahun 2000, menurut data FactSet.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise, menilai pasar mulai terlihat “sangat meregang” tanpa adanya koreksi berarti sejak April lalu. “Kita belum benar-benar melihat koreksi besar atau tekanan nyata pada saham sejak April,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC.
“Laba memang bagus, tapi saya pikir investor mulai bertanya-tanya, berdasarkan laju investasi belanja modal dari sejumlah perusahaan Big Tech, apakah laba tahun depan akan cukup besar untuk membenarkan tingginya capex,” tambah Saglimbene.
Pernyataan dari dua bos besar Wall Street juga menambah kekhawatiran investor. CEO Goldman Sachs David Solomon memperingatkan kemungkinan penurunan 10% hingga 20% di pasar saham dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
CEO Morgan Stanley Ted Pick juga menilai koreksi pasar merupakan hal yang wajar. Ia mengatakan, “Kita juga harus menyambut kemungkinan adanya penurunan 10% hingga 15% yang tidak disebabkan oleh faktor makro besar.”
Saglimbene menambahkan, “Fundamental masih bagus, tapi saya sepenuhnya memperkirakan akan ada sedikit periode penurunan.” Ia menambahkan, “Apakah itu berujung pada koreksi 5%, 10%, atau 15% hingga akhir tahun, kita lihat saja nanti.”
Sebelumnya, Wall Street menutup sesi perdagangan Senin dengan hasil campuran. S&P 500 dan Nasdaq sempat menguat, sementara Dow Jones turun lebih dari 200 poin. Lebih dari 300 saham dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah, memperkuat kekhawatiran soal lemahnya breadth pasar dan tingginya konsentrasi pada sektor teknologi.
Saglimbene menilai pasar saat ini terlalu bergantung pada sektor teknologi. “Breadth di pasar sudah cukup sempit dalam beberapa bulan terakhir,” katanya. “Jika momentum AI atau teknologi melambat, tidak banyak sektor lain yang tampil sebaik itu. Dan jika kita belum punya data ekonomi yang jelas atau profitabilitas sektor lain di S&P 500 tidak sekuat itu, ke mana investor akan beralih?” ujarnya.
