STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kembali terpuruk pada perdagangan Rabu (17/12/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (18/12/2025) WIB. Indeks-indeks utama berguguran karena investor terus melepas saham-saham utama di sektor kecerdasan buatan (AI). Aksi jual ini dipicu oleh kabar kurang sedap mengenai proyek pusat data Oracle.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 228,29 poin atau 0,47% ke posisi 47.885,97. Indeks S&P 500 (SPX) jatuh 1,16% menjadi 6.721,43. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, anjlok 1,81% dan menutup sesi di level 22.693,32.
Penutupan ini menandai penurunan empat hari berturut-turut bagi S&P 500 dan Dow Jones.
Saham Oracle yang sempat menjadi primadona pasar anjlok 5,4%. Penurunan tajam ini terjadi setelah Financial Times melaporkan masalah pendanaan pada proyek perusahaan. Investor utama, Blue Owl Capital, dikabarkan batal membiayai proyek pusat data Oracle di Michigan senilai US$ 10 miliar.
Sumber yang mengetahui masalah tersebut menyebut adanya kekhawatiran terkait utang dan tingkat pengeluaran Oracle. Namun, pihak Oracle telah membantah laporan tersebut dan menegaskan proyek tetap berjalan.
Sentimen negatif ini menjalar ke saham-saham teknologi lainnya. Produsen chip Broadcom turun lebih dari 4%. Saham ini menjadi salah satu yang paling banyak dilepas investor belakangan ini.
Nvidia kehilangan hampir 4%, sedangkan Advanced Micro Devices merosot lebih dari 5%. Induk Google, Alphabet, juga tercatat melemah lebih dari 3%.
Sepanjang bulan Desember, Oracle dan Broadcom menderita kerugian yang cukup dalam. Masing-masing saham ini telah turun lebih dari 11% dan sekitar 19%.
Brian Mulberry, manajer portofolio klien di Zacks Investment Management memberikan analisisnya terkait situasi ini.
“Kami benar-benar melihat rotasi yang cukup jelas dari pertumbuhan kapitalisasi besar ke nilai kapitalisasi besar, dan apa yang sebenarnya kami lihat adalah, menurut saya, orang-orang memposisikan diri mereka dalam postur yang lebih defensif untuk apa yang akan terjadi tahun depan,” ujar Mulberry.
“Pertanyaan sebenarnya yang diajukan adalah, ‘Siapa yang akan memonetisasi investasi yang sangat besar dalam AI ini?’” tambahnya.
Mulberry memperkirakan pergeseran investasi dari saham bervaluasi tinggi ke sektor yang lebih wajar akan berlanjut hingga 2026. Hal ini, ditambah ketidakpastian kebijakan moneter, bisa memicu volatilitas pasar.
“Pada titik ini, melihat himpunan bagian faktor tertentu untuk menentukan kapan dan di mana momen profitabilitas AI itu akan terjadi menjadi penting, dan itu akan menjadi hal-hal seperti arus kas bebas. Anda bisa memalsukan neraca keuangan, tetapi Anda tidak bisa memalsukan arus kas bebas,” tegasnya.
“Pendorong keuntungan terbesar kini telah berubah menjadi risiko terbesar bagi pasar,” tutup Mulberry.
Kekhawatiran investor terhadap skema pembiayaan berisiko untuk pembangunan pusat data memang meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Selain itu, pasar juga masih mencerna data ekonomi AS setelah Biro Statistik Tenaga Kerja merilis laporan pekerjaan yang sempat tertunda pada hari Selasa.
