STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak variatif pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026). Indeks Kospi Korea Selatan sukses mencetak rekor tertinggi baru. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membayangi pergerakan pasar.
Mengutip CNBC International, Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri perang. Langkah ini memicu kekhawatiran akan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Iran sebelumnya mengajukan penawaran untuk mengakhiri perang di semua lini dan mencabut sanksi terhadap Teheran.
Trump menyebut tanggapan Iran tersebut tidak disukai. Melalui unggahan di Truth Social, Trump menegaskan sikapnya terhadap tawaran tersebut.
“Sangat tidak bisa diterima!” tulis Trump.
Kekhawatiran akan gangguan di Selat Hormuz terus menekan pasar global. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan upaya membatasi ambisi nuklir Teheran masih berlanjut. Pernyataan Netanyahu muncul menjelang rencana perjalanan Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
“Belum berakhir,” ujar Netanyahu mengenai perang dengan Iran.
Indeks Kospi Korea Selatan ditutup melonjak 4,32% ke level 7.822,24. Rekor ini dipicu oleh kenaikan saham kelas berat SK Hynix yang melesat lebih dari 11%. Penguatan SK Hynix mengikuti lonjakan saham sektor chip di bursa AS pada akhir pekan lalu. Sementara itu, indeks Kosdaq bergerak flat di posisi 1.207,34.
Bursa Jepang mencatatkan kinerja kurang memuaskan. Indeks Nikkei 225 turun 0,47% dan berakhir di posisi 62.417,88. Saham Nintendo merosot lebih dari 8%. Investor bereaksi negatif terhadap rencana pengembang gim tersebut menaikkan harga Switch 2 di tengah prediksi penurunan penjualan konsol. Indeks Topix yang lebih luas naik tipis 0,3% ke level 3.840,93.
Pasar saham China daratan berhasil menguat. Indeks CSI 300 naik 1,64% ke posisi 4.951,84. Investor memantau data inflasi konsumen dan produsen China bulan April yang naik melampaui perkiraan. Kenaikan biaya komoditas akibat konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama inflasi tersebut.
Indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau bergerak flat pada jam terakhir perdagangan. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah 0,49% ke level 8.701,80. Sementara itu, indeks Nifty 50 India turun 0,94%.
