S&P 500 Cetak Rekor Baru di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (12/5/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh reli saham-saham teknologi meskipun harga minyak dunia melonjak akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di New York Stock Exchange naik 95,31 poin atau 0,19% ke level 49.704,47.

Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,19% dan ditutup pada level tertinggi sepanjang masa, yakni 7.412,84. Adapun indeks Nasdaq Composite naik 0,1% ke posisi 26.274,13.

Sentimen positif di pasar tetap terjaga meskipun Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Trump menyebut respons dari Teheran sama sekali tidak dapat diterima.

Penolakan tersebut menempatkan upaya gencatan senjata antara AS dan Iran dalam situasi yang semakin rapuh, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai kekuatan sektor teknologi masih mampu menahan dampak negatif dari lonjakan harga energi.

“Ledakan teknologi terlalu kuat untuk membiarkan fakta harga energi yang tinggi memengaruhi ekonomi AS atau pasar saham AS,” ujar Hatfield kepada CNBC. “Semua orang mengabaikan Timur Tengah.”

Saham Micron Technology memimpin penguatan dengan kenaikan 6,5%, seiring berlanjutnya reli sektor semikonduktor. Sementara saham NVIDIA naik hampir 2%.

Hatfield memperkirakan pasar berpotensi bergerak mendatar dalam dua bulan ke depan akibat ketidakpastian konflik Iran. Namun, menurut dia, tekanan tersebut akan tertutupi oleh pertumbuhan pesat industri teknologi.

“Pasar ini tidak ingin turun karena ledakan teknologi,” katanya.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah juga melonjak. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,78% menjadi US$98,07 per barel, sedangkan minyak Brent menguat 2,88% ke level US$104,20 per barel.

Meski demikian, tidak semua analis memandang reli pasar ini akan berlangsung lama. Senior Portfolio Manager Globalt Investments, Keith Buchanan, menilai optimisme pasar terhadap belanja modal kecerdasan buatan (AI) sudah terlalu tinggi.

Menurut Buchanan, valuasi saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan berbagai risiko yang masih membayangi, termasuk potensi konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap konsumsi.

“Pasar memperdagangkan valuasi yang tidak mengindikasikan risiko yang kami lihat di luar sana,” ujar Buchanan.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS saat ini sangat ditopang oleh euforia investasi di sektor AI. Tanpa dorongan tersebut, kondisi ekonomi diperkirakan akan terlihat jauh lebih lemah.

“Ini adalah kisah tentang pengeluaran AI dan efek riaknya terhadap pendapatan, yang benar-benar menggerakkan ekonomi yang, tanpa pengeluaran dan optimisme itu, mungkin cukup lesu,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Menanti Rilis Data Inflasi April, Indeks Futures Wall Street Bergerak Tipis

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Negosiasi Damai AS-Iran Buntu, Bursa Saham Eropa Berakhir Variatif

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup variatif pada...

Kospi Korea Selatan Cetak Rekor Baru, Ketegangan AS-Iran Hantui Pasar Asia

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru