Menanti Rilis Data Inflasi April, Indeks Futures Wall Street Bergerak Tipis

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) bergerak mendatar pada Senin (11/5/2026) malam waktu setempat atau Selasa pagi (12/5/2026) WIB. Para pelaku pasar kini tengah menunggu rilis data indeks harga konsumen (CPI) periode April.

Mengutip CNBC International, indeks S&P 500 futures naik tipis. Nasdaq 100 futures terpantau tidak banyak berubah. Sementara itu, futures yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average bertambah 39 poin atau kurang dari 0,1%.

Pada sesi perdagangan reguler, S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil mencetak rekor tertinggi baru. Indeks pasar secara luas meningkat 0,19%. Nasdaq menguat tipis 0,1%. Dow Jones naik 95,31 poin atau setara 0,19%.

Fokus investor saat ini tertuju pada pengumuman data inflasi April. Laporan tersebut dijadwalkan terbit pada Selasa pagi pukul 08.30 waktu setempat. Ekonom memperkirakan inflasi tahunan berada di angka 3,7%. Secara bulanan, CPI April diproyeksi tumbuh 0,6%.

Di sisi lain, harga minyak dunia merangkak naik pada Senin. Kondisi ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran sangat lemah. Trump menolak usulan balasan dari Teheran untuk mengakhiri perang.

Iran tetap menuntut ganti rugi perang dalam tawaran terbarunya. Mereka juga meminta kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Selain itu, Iran mendesak pencairan aset yang dibekukan serta pencabutan sanksi.

Musim laporan keuangan yang solid terus mendorong saham ke level tertinggi baru. Beberapa perusahaan besar akan merilis kinerja mereka sebelum pembukaan pasar Selasa. Emiten tersebut meliputi Under Armour, Vodafone, On Holding, Aramark, eToro, hingga Tencent Music Entertainment.

Head of Portfolio Strategy Merrill and Bank of America Private Bank, Marci McGregor, memberikan pandangan positif terhadap kondisi pasar saat ini. Ia meyakini pemulihan pasar masih didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat.

“Pelemahan pasar merupakan peluang beli. Kondisi ini didorong oleh laba korporasi serta pasar tenaga kerja yang kuat,” ujar McGregor.

Selain data inflasi, pelaku pasar akan memantau data pendapatan per jam final bulan April. Data rata-rata jam kerja mingguan dan laporan anggaran belanja negara (treasury budget) juga menjadi perhatian investor.

- Advertisement -

Artikel Terkait

S&P 500 Cetak Rekor Baru di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau...

Negosiasi Damai AS-Iran Buntu, Bursa Saham Eropa Berakhir Variatif

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup variatif pada...

Kospi Korea Selatan Cetak Rekor Baru, Ketegangan AS-Iran Hantui Pasar Asia

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru