Waspada Geopolitik dan Suku Bunga, Ini Faktor Penentu IHSG 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar saham Indonesia memasuki tahun 2026 dengan sejumlah tantangan dan peluang. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Para analis menyoroti arah kebijakan suku bunga, risiko geopolitik, hingga efektivitas kabinet baru sebagai penentu utama.

Customer Engagement & Market Analyst Departemen Head BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, membedah faktor-faktor krusial tersebut. Dari sisi global, arah suku bunga dan kebijakan moneter masih menjadi perhatian utama. Risiko geopolitik serta perlambatan ekonomi dunia juga tak luput dari pantauan.

Investor asing diperkirakan akan lebih selektif dalam menanamkan modalnya. Mereka cenderung lebih sensitif terhadap berbagai risiko yang muncul.

“Selektivitas investor asing (lebih sensitif terhadap risiko),” ujar Chory kepada stockwatch.id beberapa waktu lalu.

Sementara itu, faktor domestik tak kalah penting. Stabilitas inflasi dengan target sekitar 2,5% menjadi salah satu kunci. Efek penurunan BI Rate pada 2025 diprediksi akan terasa penuh dampaknya di tahun ini. Belanja pemerintah dan proyek strategis nasional juga menjadi katalis penggerak.

Kinerja pemerintahan baru yang memasuki tahun kedua juga menjadi sorotan. Chory menilai kebijakan yang diambil akan mulai menunjukkan hasil.

“Tahun kedua kabinet baru → efektivitas kebijakan mulai terlihat,” tambahnya.

VP Equity Research PT BNI Sekuritas, Yulinda Hartanto, turut memberikan pandangannya. Ia melihat kebijakan moneter akomodatif sebagai sentimen pendukung. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga total 125 bps selama 2025. Ruang pelonggaran lanjutan masih terbuka pada 2026 selama stabilitas Rupiah terjaga.

Likuiditas sistem keuangan juga menunjukkan perbaikan. Hal ini didorong oleh penurunan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Relokasi dana pemerintah ke bank BUMN turut meningkatkan likuiditas perbankan.

APBN 2026 dinilai pro-pertumbuhan dengan target 5,4%. Defisit anggaran dijaga di kisaran 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Peningkatan belanja sosial untuk perumahan, energi, pangan, dan infrastruktur menjadi stimulus positif. Kebijakan stimulus fiskal di China juga membantu menjaga harga komoditas ekspor Indonesia.

Meski demikian, Yulinda mengingatkan adanya sejumlah sentimen pemberat. Risiko perlambatan global atau stagflasi di Amerika Serikat (AS) dapat memperkuat mata uang Dolar AS untuk sementara waktu. Potensi eskalasi tarif AS atau risiko kebijakan Donald Trump juga bisa meningkatkan volatilitas global.

Dari dalam negeri, penerapan sistem perpajakan baru menjadi perhatian. Kebijakan ini berpotensi memberikan tekanan jangka pendek pada dunia usaha.

“Implementasi Core Tax System yang berpotensi menekan kepercayaan bisnis dan konsumsi pada fase awal,” jelas Yulinda.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, sepakat pasar masih akan bergerak fluktuatif. Ketidakpastian dari The Fed dan harga komoditas masih menghantui. Konflik di sejumlah kawasan yang belum mereda serta proteksionisme ekonomi di beberapa negara menjadi faktor eksternal yang patut diwaspadai.

Dari sisi internal, upaya pemulihan ekonomi menjadi fokus. Realisasi kebijakan yang mampu mengangkat daya beli masyarakat sangat dinanti. Pergerakan nilai tukar Rupiah hingga aksi korporasi emiten akan turut mewarnai dinamika pasar.

“Pasar masih akan berfluktuatif dengan sejumlah sentimen baik dari sisi global seperti uncertainty dari The Fed, fluktuatifnya harga komoditas, belum redanya konflik di sejumlah kawasan, proteksionisme terhadap kebijakan ekonomi di sejumlah negara, dan lainnya,” tutup Reza.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BEI Buka Gembok Suspensi Saham Ini Mulai 6 April 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi...

Bidik Pasar Digital USD 29 Miliar, DSSA Garap Proyek Panas Bumi Hingga Infrastruktur AI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)...

Perdalam Pasar Modal, OJK Siapkan ETF Emas hingga Program PINTAR Reksa Dana

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru