STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merangkak naik pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) WIB. Pasar sedang menunggu kepastian terkait konflik Iran. Saat ini Iran sedang meninjau draf kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) guna menghentikan perang.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik sekitar 1% dan ditutup pada level 96 USD per barel. Capaian ini merupakan level penutupan tertinggi sejak 26 Mei lalu.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 2%. Minyak WTI berakhir pada posisi 93,76 USD per barel. Sebelumnya, kedua kontrak minyak tersebut sempat turun lebih dari 2 USD pada sesi yang sama.
Konflik ini telah berlangsung lebih dari tiga bulan sejak AS dan Israel menyerang Iran. Situasi saat ini mencapai titik buntu dengan Selat Hormuz yang sebagian besar ditutup. Penutupan jalur penting ini menghambat sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair dunia.
Kondisi tersebut berdampak pada lonjakan harga minyak sebesar 50% atau lebih. Di sisi lain, AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Analis di firma penasihat energi Ritterbusch and Associates memberikan catatan terkait volatilitas pasar. “(Kompleks minyak) terus bergejolak hebat di tengah komentar-komentar yang saling bertentangan dari Gedung Putih dan Iran serta antara Trump dan (pemimpin Israel Benjamin) Netanyahu,” tulis Ritterbusch dalam sebuah catatan.
Mereka menilai pembukaan Selat Hormuz belum menemui titik terang dalam waktu dekat. “Masih ada berbagai bagian yang bergerak dalam drama ini, namun pada akhirnya pembukaan kembali Selat Hormuz secara signifikan tampaknya tidak jauh lebih dekat dibandingkan beberapa bulan lalu,” tambah Ritterbusch.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan proses negosiasi terus berlanjut. Trump berharap ada kesepakatan dalam pekan depan untuk memperpanjang gencatan senjata. Langkah ini juga bertujuan membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan informasi tambahan kepada para pembuat undang-undang. Rubio menyebut Iran setuju untuk merundingkan aspek-aspek program nuklirnya. Sebelumnya Iran selalu menolak membahas isu tersebut. Namun, Rubio menegaskan negosiasi ini belum menjamin terciptanya sebuah kesepakatan final.
Sementara itu, agensi semi-resmi Fars melaporkan pesan-pesan terkait draf kesepakatan sempat terhenti beberapa hari lalu. Hal ini terjadi setelah Iran mengirimkan pesan tegas mengenai wilayah Lebanon. Iran menuntut penghentian serangan Israel terhadap sekutunya, Hizbullah.
Israel sendiri tetap melanjutkan serangan ke Lebanon Selatan pada hari Selasa. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus menekan kampanye militernya. Padahal, sehari sebelumnya Trump meminta Netanyahu tidak menyerang Beirut guna menghindari eskalasi perang.
Kekhawatiran pasokan juga datang dari Badan Energi Internasional (IEA). Kepala Divisi Industri dan Pasar Minyak IEA memperingatkan potensi penurunan stok minyak global. Menurutnya, persediaan bisa mencapai level kritis tepat sebelum puncak permintaan musim panas jika pengurangan stok terus berlanjut.
Para pedagang minyak di AS kini menanti laporan penyimpanan mingguan. American Petroleum Institute (API) dan Badan Informasi Energi (EIA) akan segera merilis data tersebut. Analis memperkirakan adanya penarikan stok sebesar 3,6 juta barel.
Jika perkiraan ini benar, perusahaan energi akan menarik stok minyak mentah selama enam minggu berturut-turut. Tren ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak Januari 2025. Sebagai perbandingan, tahun lalu terjadi penurunan stok sebesar 4,3 juta barel pada periode yang sama.

