STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup beragam pada akhir perdagangan Kamis sore (4/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (5/6/2026) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) berhasil mencetak rekor tertinggi baru di tengah aksi investor yang mulai menjauhi saham-saham sektor teknologi.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 874,86 poin atau 1,73% ke level 51.561,93. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,41% dan berakhir di posisi 7.584,31. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, terkoreksi tipis 0,09% menjadi 26.830,96.
Lonjakan Dow Jones dipimpin oleh saham UnitedHealth yang melesat lebih dari 5%. Saham JPMorgan Chase dan Walmart turut menopang penguatan indeks dengan kenaikan masing-masing sebesar 3% dan hampir 1%. Di luar komponen Dow, saham Costco naik sekitar 1% dan Eli Lilly melonjak lebih dari 4%.
Pergerakan pasar menunjukkan adanya rotasi modal dari saham cip ke sektor non-teknologi. Hal ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham Broadcom. Perusahaan tersebut merosot lebih dari 12% usai melaporkan pendapatan kuartal kedua fiskal yang meleset dari target.
Sektor semikonduktor yang sebelumnya memimpin reli pasar ikut rontok. ETF Semikonduktor VanEck (SMH) terpangkas lebih dari 1%. Saham Arm Holdings merosot lebih dari 4%, sementara Micron Technology jatuh mendekati 8%.
Dennis Follmer, Chief Investment Officer di Montis Financial, memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Ia menyebut tren kecerdasan buatan (AI) sebenarnya masih kuat. Namun, pasar terlihat mulai jenuh setelah reli panjang.
“Setelah musim laporan keuangan yang menakjubkan, perdagangan AI masih hidup dan sehat, tetapi reli ini mulai melelahkan setelah lonjakan luar biasa selama lebih dari dua bulan,” ujar Follmer.
Follmer juga menyoroti pengaruh situasi geopolitik di Selat Hormuz terhadap pasar. Menurutnya, pelaku pasar perlu mengantisipasi kemungkinan saham akan melandai dalam waktu dekat.
“Tanpa akhir yang jelas bagi kebuntuan di Selat Hormuz, kami tidak akan terkejut melihat saham-saham tertahan untuk sementara waktu seiring kenyataan tersebut meresap dan pasar mengambil napas dari tren baru-baru ini,” tambah Follmer.
Ia menilai pergerakan hari Kamis merupakan sinyal awal perubahan strategi para investor. Selain itu, Follmer mengingatkan setiap saham teknologi memiliki profil risiko dan ekspektasi yang berbeda.
Langkah pasar hari ini “menunjukkan babak awal dari sebuah rotasi dan ini juga merupakan pengingat tidak semua saham AI itu sama dan ada ekspektasi berbeda yang tertanam pada setiap saham,” jelas Follmer.
Sebelumnya, Wall Street sempat tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat setelah Bandara Internasional Kuwait diserang oleh Iran pada Rabu pagi.
Komando Pusat AS merespons serangan tersebut dengan menghancurkan sejumlah rudal balistik dan drone milik Iran. Pihak AS juga melancarkan serangan pertahanan diri di Pulau Qeshm, Teluk Persia. Ketegangan ini sempat memberikan tekanan pada sentimen risiko global sebelum akhirnya investor melakukan rotasi ke saham-saham bernilai (value stocks) pada sesi Kamis.

