Investor Ritel Wajib Tahu,Ini Strategi Cuan Saham 2026: Pakai Taktik Core-Satellite Hingga Incar Saham Digital

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Analis pasar modal membagikan panduan jitu bagi investor ritel untuk menghadapi dinamika pasar saham pada 2026. Strategi cermat dan pemilihan saham berbasis fundamental menjadi kunci utama dalam meraup keuntungan. Hal ini sangat penting bagi para pemodal individu di tengah fluktuasi indeks yang terus bergerak dinamis.

Customer Engagement & Market Analyst Departemen Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani memaparkan sejumlah syarat emiten layak koleksi. Ia menekankan pentingnya melihat visibilitas pertumbuhan laba serta kualitas arus kas perusahaan. Kondisi neraca keuangan sehat dengan tingkat utang atau leverage terkontrol juga menjadi prioritas.

Selain itu, eksekusi manajemen dan tata kelola perusahaan yang baik menjadi pertimbangan krusial. Chory menyarankan investor memilih emiten dengan aksi korporasi yang menambah nilai bisnis. Valuasi saham juga harus rasional dan bukan sekadar mengandalkan harga murah semata.

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada turut memberikan pandangan bagi investor dengan modal terbatas. Ia menyebut saham dari grup Bakrie tetap menjadi perhatian sebagai pilihan saham receh. Namun, ia juga melirik potensi besar dari infrastruktur digital seperti DCI Indonesia (DCII).

Reza menilai emiten penyedia pusat data tersebut sangat menjanjikan. Perusahaan global sekelas Facebook dan Google merupakan pengguna jasa infrastruktur mereka. Pertumbuhan kinerjanya diprediksi melonjak seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital nasional.

“Bagi investor ritel dengan dana terbatas, strategi pemilihan saham harus lebih cermat,” ujar Reza.

Beberapa saham di kisaran harga Rp1.000-an seperti BRMS dan BUMI dianggap masih sangat aksesibel bagi ritel. Meskipun volatilitasnya tinggi, kinerja emiten ini cukup menarik untuk dipantau. Investor perlu mencermati momentum yang tepat sebelum melakukan pembelian.

Chory Agung Ramdhani menyarankan penggunaan strategi core–satellite dalam pengelolaan portofolio. Alokasi sekitar 60%–70% sebaiknya ditempatkan pada saham core berupa saham defensif dan berkapitalisasi besar. Kelompok saham ini berfungsi sebagai penopang utama portofolio agar tetap stabil.

Sisanya, sebanyak 30%–40% dapat dialokasikan pada saham satellite. Kelompok saham ini memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi melalui ekspansi terukur. Strategi ini bertujuan mengejar alpha atau imbal hasil di atas rata-rata pasar.

Investor ritel didorong melakukan akumulasi secara bertahap pada sektor yang sensitif terhadap penurunan suku bunga. Sektor perbankan dan properti dengan fundamental solid diprediksi mendapatkan keuntungan. Evaluasi berkala sangat diperlukan agar investasi tetap selaras dengan perkembangan fundamental emiten.

Chory menekankan pemilihan saham melalui pendekatan bottom-up stock picking. “Strategi investor ritel pada 2026 perlu lebih taktis dengan pendekatan bottom-up stock picking, menekankan pemilihan saham yang memiliki visibilitas pertumbuhan laba yang jelas, bukan sekadar momentum harga,” tuturnya.

Penerbitan saham baru atau rights issue juga harus dicermati secara selektif. Fokus utamanya terletak pada dampak terhadap EPS serta kualitas ekspansi perusahaan. Chory menambahkan kriteria penting lainnya adalah “Kriteria memilih saham terbaik di 2026” harus mencakup aspek keberlanjutan bisnis.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pertamina Kerahkan 345 Kapal untuk Amankan Pasokan BBM dan LPG Nasional

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat distribusi...

Cetak Laba Rp56,65 Triliun, BBRI Bagikan Dividen Jumbo Rp52,1 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

BEI Depak 18 Emiten Termasuk SRIL, Inilah Daftar Lengkap Pemegang Saham dan Jajaran Manajemennya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembersihan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru