spot_img

Telkom Indonesia Kantongi Laba Rp4,3 Triliun di Kuartal I 2026, Pendapatan Tumbuh Jadi Rp37,2 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengawali tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang solid. Emiten telekomunikasi plat merah ini membukukan laba bersih sebesar Rp4,3 triliun pada kuartal pertama tahun 2026.

Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis Jumat, 29 Mei 2026, laba bersih tersebut menghasilkan margin laba bersih sebesar 11,7%. Jika melihat laba bersih yang dinormalisasi, angkanya mencapai Rp5,1 triliun atau memiliki margin 13,8%.

Laba bersih ini sedikit terkontraksi akibat dampak lanjutan percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi. Meski demikian, manajemen menegaskan tekanan ini bersifat transisional dan non-tunai (non-cash), sehingga kinerja operasional secara fundamental tetap terjaga.

Pendapatan konsolidasi Telkom pada tiga bulan pertama 2026 mencapai Rp37,2 triliun. Realisasi ini tumbuh 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 (Year on Year/YoY).

Segmen B2C yang meliputi Mobile dan Fixed Broadband menjadi kontributor utama pendapatan. Unit bisnis Telkomsel ini meraup pendapatan Rp27,6 triliun atau naik 1,3% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) mobile sebesar 6,4% menjadi Rp45.100.

Selain itu, segmen B2B Infrastructure menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan Rp2,4 triliun, melonjak 6,8% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT). Mitratel, sebagai pengelola menara, menyumbang pendapatan Rp2,3 triliun dengan EBITDA margin yang stabil di level 82,7%.

Pada unit Wholesale & International Service, Perseroan mencatat pendapatan Rp2,8 triliun. Layanan interkoneksi di unit ini tumbuh 18,9% dibandingkan kuartal sebelumnya (Quarter on Quarter/QoQ). Sementara itu, segmen B2B ICT menyumbang pendapatan Rp3,1 triliun di tengah proses restrukturisasi yang sedang berlangsung.

Dari sisi efisiensi, Telkom berhasil mengelola beban melalui program efisiensi TOTEX. Hal ini mendorong arus kas operasional tumbuh 3,1% YoY menjadi Rp17,3 triliun. EBITDA Perseroan tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan margin EBITDA yang kuat di posisi 48,3%.

Untuk mendukung pengembangan infrastruktur, Telkom merealisasikan belanja modal (CapEx) sebesar Rp4,9 triliun. Angka ini setara dengan 13,2% dari total pendapatan. Sebanyak 99% modal tersebut dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur inti di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan Internasional.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan, perusahaan akan terus mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan nilai yang optimal bagi perusahaan.

“Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan bertahap,” ujar Dian.

Saat ini, Telkom sedang dalam proses melakukan efisiensi operasional melalui inisiatif streamlining portofolio. Salah satunya adalah rencana divestasi AdMedika Group yang ditargetkan selesai pada akhir semester pertama 2026.

Selain itu, Perseroan tengah menyiapkan pemisahan bisnis (spin-off) aset wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia. Proses ini diproyeksikan rampung pada kuartal ketiga tahun ini. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan kontribusi bisnis fiber dari kisaran 15% menjadi sekitar 25%.

“Kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi,” tutup Dian.

- Advertisement -

Artikel Terkait

LPS Tahan Bunga Penjaminan 3,5%, Keamanan Simpanan Nasabah Tetap Terjaga

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk...

Strategi BI Jaga Rupiah: Batasi Pembelian Dolar Tanpa Dokumen Hingga Intervensi 24 Jam

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat barisan...

Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat, BRI Siap Perluas Penyaluran Kredit pada 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru