STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia meroket lebih dari 2% pada akhir perdagangan Jumat (27/2/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (28/2/2026) WIB.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 1,73 USD atau 2,45% menjadi 72,48 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,81 USD atau 2,78%. Minyak WTI berakhir pada posisi 67,02 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Lonjakan harga ini membawa minyak Brent ke level tertinggi sejak Juli. Ketakutan pasar akan meluasnya konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Pasokan minyak global kini terancam terganggu secara masif.
Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu aksi balasan. Iran resmi menutup Selat Hormuz dari segala aktivitas navigasi kapal sejak Sabtu. Jalur laut ini sangat vital bagi urat nadi ekonomi dunia.
Selat Hormuz melayani lebih dari 20% transit minyak global. Penghentian arus minyak, gas, dan kargo lainnya membuat pasar energi global panik. Para pemilik kapal telah menerima peringatan langsung dari Teheran terkait penutupan area tersebut.
Merespons krisis ini, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) langsung turun tangan. Lima sumber Reuters menyebut OPEC+ sepakat menaikkan produksi minyak pada pertemuan Minggu (1/3/2026). Peningkatan ini dilakukan secara bertahap.
Kelompok ini secara prinsip setuju menambah pasokan sebesar 206.000 barel per hari. Sebelumnya, mereka sempat memperdebatkan opsi kenaikan mulai dari 137.000 hingga 548.000 barel per hari. Langkah ini bertujuan meredam guncangan di pasar global.
OPEC+ memang punya sejarah menaikkan produksi saat terjadi gangguan pasokan darurat. Namun, para analis menilai kapasitas cadangan mereka saat ini sangat tipis. Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki ruang tersisa untuk menambah pasokan.
Meski begitu, kedua negara tersebut juga akan kesulitan mengekspor minyak mereka. Pengiriman baru bisa dilakukan normal jika keamanan navigasi di kawasan Teluk kembali pulih.
Riyadh sebenarnya sudah bersiap menghadapi skenario terburuk ini. Arab Saudi telah menaikkan produksi dan ekspor minyaknya dalam beberapa pekan terakhir. Mereka rupanya sudah mengantisipasi dampak serangan AS terhadap Iran.
Analis veteran OPEC di RBC, Helima Croft, menyoroti peringatan serius dari para pemimpin kawasan kepada AS.
“Para pemimpin Timur Tengah telah memperingatkan Washington perang terhadap Iran dapat mendorong harga minyak di atas 100 USD per barel,” ujar Croft.
Prediksi senada juga disuarakan oleh para analis dari Barclays. Mereka sepakat harga minyak mentah bisa dengan mudah menembus level 100 USD per barel dalam waktu dekat.
Croft juga meragukan efektivitas langkah OPEC+ dalam meredam lonjakan harga saat ini.
“Dampak pasar dari setiap peningkatan besar dalam produksi OPEC akan terbatas karena kurangnya kapasitas produksi di luar Arab Saudi,” tambahnya.
Pertemuan darurat pada hari Minggu hanya melibatkan delapan anggota utama OPEC+. Mereka adalah Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman. Delapan negara ini selalu menjadi penentu utama perubahan produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Kedelapan anggota ini sebelumnya telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari. Penambahan sebesar 3% dari permintaan global ini berlaku dari April hingga Desember 2025. Mereka kemudian sempat menghentikan rencana kenaikan produksi untuk periode Januari hingga Maret 2026 akibat faktor musiman.
