STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatat pendapatan sebesar US$318 juta pada kuartal I 2026. Hasil ini turun 10% dibandingkan periode yang sama kuartal I 2025. Hal itu disampaikan Iwan Fuad Salim, Direktur DOID, dalam keterangan resmi dikutip Senin (01/6/2026).
Iwan menyampaikan, Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3% YoY. Ini didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
EBITDA DOID meningkat 98% menjadi US$28 juta pada kuartal I 2026, dari US$14 juta pada kuartal I 2025, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada kuartal I 2025.
Dari pendapatan tersebut di atas, DOID mencatat rugi bersih sebesar US$24 juta di kuartal I 2026. Angka ini turun sekitar 66% dibandingkan dengan rugi bersih DOID sebesar US$70 juta pada kuartal I 2025.
Menurut Iwan, perbaikan sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada kuartal I 2025.
Sementara itu, belanja modal DOID tercatat sebesar US$20 juta di kuartal I 2026. Ini dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional. Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi US$2 juta, dibandingkan dengan negatif US$19 juta pada kuartal I 2025.
Perbaikan ini terutama didorong oleh penerimaan sebesar US$17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, serta didukung oleh pemulihan EBITDA dan belanja modal yang jauh lebih rendah.
“Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa pemulihan yang kami bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan. EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah. Ini didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas,” tulis Iwan.
Menurut Iwan, disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari. Hal ini memberikan DOID landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini. Perseroan juga telah menyelesaikan transisi menuju tim subject-matter expertterpusat, yang membawa keahlian fungsional yang lebih mendalam ke setiap operasi.
“Fondasi telah terbentuk, dan fokus kami ke depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering,” katanya.

