STOCKWATCH.ID, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menggoyang pasar modal Indonesia. Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu kekhawatiran besar di kalangan investor.
Insiden tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dampak ketegangan geopolitik ini langsung terasa pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di level 8.092,905 pada Senin (2/3/2026). Hingga pukul 09.06 WIB, IHSG masih terpantau memerah di posisi 8.106,299.
Angka ini menunjukkan penurunan sedalam 129,186 poin. IHSG tercatat anjlok 1,57% jika dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) yang berada di level 8.235,485.
Menanggapi kondisi pasar yang bergejolak, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan imbauan khusus. Ia meminta para pelaku pasar tidak panik dalam mengambil keputusan investasi.
“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Jeffrey juga mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko yang muncul. Strategi investasi harus disesuaikan dengan kondisi pasar yang sedang tidak menentu.
“Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” tambahnya singkat.
