STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (1/6/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (2/6/2026) WIB. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Investor kini khawatir eskalasi konflik akan memicu lonjakan inflasi global.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,4% menjadi USD 4.517,37 per ons troi. Padahal, harga logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan pada sesi Jumat lalu. Sementara itu, harga emas berjangka AS merosot 1,9% dan menetap di posisi USD 4.506,30.
Kenaikan tensi geopolitik memperkuat ekspektasi bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi tersebut diperparah oleh penguatan nilai tukar dolar AS. Mata uang yang kokoh membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, memberikan analisanya terkait pergerakan harga. Ia menilai tekanan pada emas akan terus berlanjut selama suku bunga tetap tinggi.
“Ekspektasi agar suku bunga tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama kemungkinan akan membuat emas tetap tertekan, kecuali imbal hasil obligasi berhenti naik dan suku bunga mulai stabil atau cenderung lebih rendah,” ujar Wyckoff.
Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran mengeklaim telah menyerang pangkalan udara AS. Aksi ini merupakan balasan atas serangan militer AS terhadap target militer Iran pada akhir pekan. Tim negosiasi Teheran juga dikabarkan berhenti bertukar pesan dengan Amerika Serikat melalui mediator.
Di sisi lain, harga minyak dunia terus merangkak naik akibat konflik tersebut. Lonjakan harga energi memicu ketakutan baru akan inflasi. Hal ini dapat mendorong bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.
Berdasarkan alat FedWatch CME Group, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 56% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun. Emas biasanya kehilangan daya tarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak menghasilkan imbal hasil.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data tenaga kerja AS yang akan keluar pekan ini. Investor juga menantikan pernyataan dari para pejabat Federal Reserve. Analis Saxo Bank, Ole Hansen, memprediksi arah pasar selanjutnya setelah guncangan ini mereda.
“Begitu situasi geopolitik stabil dan guncangan energi mulai memudar, kami memperkirakan investor akan fokus kembali pada tema-tema struktural yang telah mendukung pasar bullish pada emas selama beberapa tahun terakhir,” kata Hansen.
Hansen menambahkan bank sentral diperkirakan tetap menjadi pembeli bersih emas sepanjang tahun depan. Faktor ini diyakini akan menjaga kekuatan pasar logam mulia dalam jangka panjang.

