STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Senin (5/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (6/4/2026) WIB. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei naik 0,87 USD atau 0,78%. Minyak WTI berakhir pada posisi 112,41 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Adapun harga minyak mentah Brent menguat 0,74 USD atau 0,68%. Harga minyak acuan global ini menetap pada level 109,77 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika negara tersebut tidak segera membuka kembali Selat Hormuz. Ia menetapkan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Ancaman tersebut mencakup penghancuran setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Trump mengklaim serangan itu bisa dilakukan dalam waktu empat jam setelah batas waktu berakhir.
Melalui konferensi pers pada Senin, Trump menekankan perlunya kesepakatan yang menjamin kelancaran lalu lintas minyak. Ia menyebut pihak Iran sebenarnya sedang bernegosiasi dengan niat baik.
“Kita harus memiliki kesepakatan yang dapat saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita menginginkan lalu lintas minyak dan segalanya bebas,” ujar Trump kepada wartawan.
Presiden AS ini juga mengklaim pemimpin Iran merupakan peserta yang aktif dan bersedia dalam proses perundingan tersebut. Ia percaya pihak lawan memiliki keinginan untuk mencapai titik temu.
“Mereka ingin bisa membuat kesepakatan,” tambah Trump.
Selat Hormuz merupakan jalur laut krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini.
Penutupan selat tersebut telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Kondisi ini menyebabkan harga minyak mentah, bahan bakar jet, diesel, hingga bensin melonjak tajam sejak awal perang.
Trump memprediksi perang kemungkinan besar akan berlanjut selama dua hingga tiga minggu ke depan. Hal ini membuat para pelaku pasar semakin khawatir terhadap ketersediaan stok energi global.
Analis komoditas senior di TD Securities, Ryan McKay, memberikan pandangannya terhadap situasi pasar. Ia menilai perhitungan jumlah barel minyak yang hilang akan semakin buruk.
“Dengan konflik yang kini diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga jauh ke bulan April, perhitungan barel menjadi semakin suram,” tutur Ryan McKay.
TD Securities memproyeksikan hampir 1 miliar barel minyak akan hilang pada akhir bulan ini. Jumlah tersebut terdiri dari 600 juta barel minyak mentah dan sekitar 350 juta barel produk sulingan.
Di sisi lain, delapan anggota OPEC+ telah sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei. Namun, belum jelas bagaimana minyak tersebut bisa mencapai pasar global selama Selat Hormuz masih tertutup.
Situasi pasokan kian terancam setelah fasilitas operasional Kuwait Petroleum Corporation dilaporkan terkena serangan pesawat tanpa awak. Serangan ini mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur energi mereka.
OPEC+ memperingatkan perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan membutuhkan biaya besar dan waktu lama. Kondisi tersebut dipastikan akan memengaruhi ketersediaan pasokan minyak secara keseluruhan di masa mendatang.
