Menanti Deadline Perang AS-Iran, Harga Emas Dunia Terkoreksi Tipis

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak melemah pada penutupan perdagangan Senin (6/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (7/4/2026) WIB. Investor cenderung menahan diri sambil mencermati perkembangan situasi Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar saat ini menanti berakhirnya tenggat waktu pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,4% ke posisi 4.654,99 USD per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup sedikit menguat 0,1% pada level 4.684,70 USD per ons troi. Pergerakan harga ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar global.

Iran menyatakan keinginan untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel secara permanen. Namun, Teheran menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz melalui gencatan senjata sementara. Kedua belah pihak masih mempertimbangkan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lima minggu.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump telah memberikan peringatan keras. Ia mengancam akan memberikan “neraka” bagi Teheran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai hingga Selasa esok hari. Ketegangan geopolitik ini membuat emas tetap menjadi perhatian sebagai aset aman (safe haven).

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, memberikan analisanya. Ia menyebut fokus pasar tetap tertuju pada perang dan suku bunga.

“Fokus kemungkinan akan tetap tertuju pada perang dan suku bunga. Jika konflik berlarut-larut, minyak akan merangkak naik di tengah kondisi pasokan yang mengetat, menambah tekanan inflasi,” ujar Melek dalam wawancara dengan CNBC.

Kenaikan harga minyak selama konflik berlangsung memang memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dinilai akan mempersempit ruang bagi bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), untuk melonggarkan kebijakan moneter. Kenaikan harga energi yang berkelanjutan bahkan bisa memicu diskusi kenaikan suku bunga.

“Hal itu membuat bank sentral, khususnya Federal Reserve, memiliki lebih sedikit ruang untuk melonggarkan kebijakan dan bahkan dapat menghidupkan kembali diskusi tentang suku bunga yang lebih tinggi jika harga energi naik lebih jauh, yang merupakan hal negatif bagi emas,” tambah Melek.

Emas secara luas dianggap sebagai pelindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi. Namun, logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Oleh karena itu, emas cenderung kurang menarik bagi investor ketika suku bunga berada di level yang tinggi.

Investor kini juga memantau beberapa agenda ekonomi penting lainnya. Notulensi rapat kebijakan The Fed bulan Maret dijadwalkan terbit pada Rabu mendatang. Selain itu, data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS akan rilis pada Kamis, diikuti Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.

Bulan lalu, bank sentral AS memutuskan untuk menahan suku bunga. Berdasarkan alat FedWatch CME, mayoritas pedagang kini melihat tidak ada peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga sepanjang tahun ini. Kondisi ini menjadi sentimen tambahan yang menekan pergerakan harga emas.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Terbang Lebih dari 1%, Ternyata Ini Pemicunya

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia menguat lebih dari...

Israel Siap Bernegosiasi dengan Lebanon, Lonjakan Harga Minyak Dunia Langsung Mereda

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia berakhir menguat pada...

Masa Sulit untuk LPG Sudah Lewat, Begini Penjelasan Bahlil Lahadalia

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah memastikan bahwa pasokan energi nasional...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru