STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Jumat (10/4/2026). Perusahaan logistik terintegrasi ini menjadi emiten pertama yang melantai di bursa pada tahun 2026.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menemui awak media usai seremoni pencatatan saham WBSA. Ia memberikan informasi terbaru mengenai daftar tunggu (pipeline) perusahaan yang akan menyusul masuk ke pasar modal.
Saat ini masih ada sekitar 13 perusahaan dalam daftar antrean IPO saham. Calon emiten tersebut datang dari berbagai latar belakang industri. Mulai dari sektor finansial, energi, hiburan, hingga barang konsumsi.
Nyoman melihat minat perusahaan untuk masuk ke bursa tetap terjaga meski situasi pasar sangat dinamis. Keinginan pelaku usaha dalam mencari pendanaan melalui pasar modal masih cukup besar.
“Saat ini kembali lagi saya sampaikan kita dalam kondisi yang dinamis namun appetite-nya masih kelihatan,” ujar Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Sebagian besar calon emiten tersebut menggunakan laporan keuangan periode Desember. BEI menargetkan proses pencatatan saham mereka rampung paling lambat pada Juni 2026. Kecepatan proses ini akan bergantung pada respons masing-masing perusahaan terhadap tanggapan dari pihak bursa.
Nyoman menyamakan proses ini seperti mahasiswa yang mengerjakan tugas. Perusahaan yang rajin dan detail dalam memberikan tanggapan akan melalui proses lebih cepat. Seluruh calon emiten tersebut memiliki peluang yang sama untuk segera melantai.
“Dari perusahaan yang ada 13, 13-13nya itu sebetulnya berpotensi karena laporan keuangannya memang akan berakhir di bulan Juni,” tambahnya.
BEI sebelumnya telah memangkas target IPO tahun 2026. Target yang semula dipatok 66 emiten kini menjadi 50 emiten baru. Jumlah ini mencakup enam emiten berskala besar atau lighthouse dari kelompok usaha raksasa.
Meski target jumlah emiten saham disesuaikan, BEI tetap optimis terhadap total pencatatan efek secara keseluruhan. Target kinerja bursa mencakup seluruh instrumen mulai dari saham, obligasi, hingga produk terstruktur seperti structured warrant dan EBA-SP.
Bursa menargetkan peningkatan total efek lebih dari 50% dibanding pencatatan pada tahun 2025. Angka pasti target tersebut kini sedang menunggu respons dari otoritas terkait sebelum diumumkan ke publik.
Nyoman menegaskan pentingnya melihat pasar modal secara holistik. Setiap instrumen, baik saham maupun obligasi, memiliki peran penting dalam membantu dunia usaha mendapatkan dana ekspansi. Hal ini diharapkan dapat mendorong roda perekonomian nasional terus bergulir.
“Semuanya ini memberikan impact pada raising fund di capital market,” tutur Nyoman.
