STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas melemah pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026). Investor mengantisipasi dampak blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini diambil setelah perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Mengutip CNBC International, buntunya negosiasi akhir pekan lalu menghidupkan kembali kekhawatiran perang akan berlangsung lama. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia yang diprediksi menekan ekonomi global. Investor kini sedang menimbang meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah melonjak tajam menyusul rencana blokade lalu lintas pelabuhan Iran oleh Washington. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat 7,07% ke level USD 103,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent naik 6,79% menjadi USD 101,67 per barel.
Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,74% dan indeks Topix turun 0,45%. Di Korea Selatan, indeks Kospi berakhir turun 0,86% ke level 5.808,62. Namun, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil justru menguat 0,57% ke posisi 1.099,84.
Bursa Australia juga mencatatkan kinerja negatif. Indeks S&P/ASX 200 merosot 0,39% ke level 8.926. Di Hong Kong, indeks Hang Seng jatuh 1,01% pada perdagangan sore hari.
Pasar saham China menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks CSI300 di China daratan berakhir naik tipis 0,21%. Sebaliknya, bursa India ikut tertekan dengan pelemahan indeks Nifty 50 sebesar 1,04% dan BSE Sensex turun 1,01%.
Sentimen pasar semakin memanas seiring laporan Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan udara ke Iran. Sebelumnya, Trump sempat menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Keputusan blokade ini diambil guna merespons kegagalan dialog damai.
Lembaga keuangan Goldman Sachs memberikan rekomendasi bagi para pelaku pasar. Mereka menyarankan investor tetap fokus pada strategi investasi utama di tengah situasi yang tidak menentu.
“Tetaplah pada tema struktural jangka panjang di tengah ketidakpastian global,” tulis Goldman Sachs dalam catatannya.
