STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Senin (27/4/2026). Pelaku pasar cenderung mengabaikan kegagalan negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,38% ke level 60.537,36. Capaian ini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa. Indeks Kospi Korea Selatan juga menguat 2,15% ke posisi 6.615,03 dan mencetak rekor puncak baru.
Penguatan pasar terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di China, indeks CSI 300 ditutup stagnan di level 4.770,95. Pergerakan ini mengikuti data laba industri China yang naik 15,8% secara tahunan pada Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan 15,2% pada dua bulan pertama tahun ini.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,24% menjelang penutupan perdagangan. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,23% ke level 8.766,4.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, membatalkan rencana pengiriman utusan khusus ke Pakistan. Utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner sebelumnya dijadwalkan bernegosiasi terkait gencatan senjata dengan Iran.
Melalui akun Truth Social, Trump menyampaikan alasan pembatalan tersebut. “Terlalu banyak waktu terbuang untuk bepergian, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada pertikaian hebat dan kebingungan dalam ‘kepemimpinan’ mereka,” tulis Trump.
Kegagalan diplomasi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia sekitar 2%. Minyak mentah Brent naik ke USD 107,49 per barel. Sementara minyak mentah AS (WTI) menguat 1,79% ke level USD 96,19 per barel.
Ketegangan di Selat Hormuz juga masih tinggi. Garda Revolusi Iran dilaporkan menaiki dua kapal kargo di jalur strategis tersebut. Di sisi lain, Iran disebut menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik.
Laporan Axios menyebut Iran mengusulkan penundaan pembicaraan nuklir ke waktu berikutnya.
