STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 akan lebih baik dibandingkan 2026. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1% hingga 5,9% dan berpotensi mendekati batas atas proyeksi tersebut.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan pandangan tersebut dalam rapat Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026). “Kisaran kami 5,1 sampai 5,9%, tapi kami yakin akan lebih ke batas atas,” ujarnya.
Menurut Perry, terdapat sejumlah faktor yang akan menopang pertumbuhan ekonomi pada 2027. Salah satunya adalah kebijakan transformasi sektoral yang dijalankan pemerintah.
Program hilirisasi industri sumber daya alam, pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), serta kebijakan PP-DHE dinilai dapat mendorong aktivitas ekonomi lebih tinggi. Selain itu, permintaan domestik diperkirakan tetap kuat. Berbagai program pemerintah juga diyakini mampu memperkuat daya dorong ekonomi nasional.
“Terima kasih Pak Menteri Keuangan yang juga banyak stimulus-stimulus untuk mendorong ekonomi kerakyatan termasuk makan bergizi gratis, koperasi desa merah putih, maupun yang lain,” ujar Perry.
BI juga menegaskan akan terus bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dukungan tersebut dilakukan melalui kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.
Dalam kesempatan itu, Perry memaparkan sejumlah langkah BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pertama, BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana maupun pasar sekunder. Hingga tahun ini, nilai pembelian SBN mencapai Rp152 triliun.
“Sebagai bagian dukungan kami untuk Pak Menteri Keuangan untuk pembiayaan pembangunan,” katanya.
Kedua, BI memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas pendukung Asta Cita.
Sampai 1 Mei 2026, BI telah menyalurkan tambahan insentif likuiditas sebesar Rp424,7 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp214,2 triliun disalurkan kepada bank-bank BUMN.
Ketiga, BI melonggarkan seluruh instrumen kebijakan makroprudensial untuk mendukung percepatan intermediasi perbankan di tingkat pusat maupun daerah.
Keempat, BI mempercepat digitalisasi sistem pembayaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan transparan melalui QRIS dan BI-FAST.
Perry mengatakan penggunaan QRIS kini telah terhubung dengan sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
“QRIS sekarang sudah dipakai di berbagai negara termasuk terakhir adalah dengan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan mohon doa restu supaya bisa sambung ke Arab Saudi untuk umrah dan haji,” ujarnya.
Kelima, BI terus menjalankan program pengembangan UMKM melalui 46 kantor perwakilan di berbagai daerah. Program tersebut mencakup pengembangan sektor kopi, wastra, serta ekonomi dan keuangan syariah.
Perry menegaskan BI tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini maupun tahun depan.
“Tapi intinya satu, optimis tahun ini dan tahun depan akan lebih baik. Dua bahwa Bank Indonesia selalu bersinergi erat dengan pemerintah, moneternya untuk stabilitas, makroprudensialnya untuk pertumbuhan,” kata Perry.

