STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 4% pada akhir perdagangan Kamis (10/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (11/6/2026) WIB. Penurunan tajam ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan segera menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka anjlok 4,2% atau berada di level 89,15 USD per barel dalam perdagangan yang diperpanjang. Sebelumnya, minyak acuan internasional ini menetap pada posisi 90,38 USD per barel atau turun hampir 3% di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka AS jatuh 3,9% ke level 86,51 USD per barel. Minyak WTI ditutup pada posisi 87,71 USD per barel atau merosot lebih dari 2% di New York Mercantile Exchange.
Trump menyampaikan keterangan kepada wartawan di Ruang Oval terkait perkembangan situasi tersebut. Ia menyebut pihak AS telah mencapai kesepakatan besar untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
“Kami telah membuat penyelesaian perang yang hebat dengan Iran. Hal ini masih menunggu finalisasi dokumen,” ujar Donald Trump.
Trump memperkirakan proses penandatanganan kesepakatan dilakukan di Eropa dalam beberapa hari ke depan. Sebelumnya, ia membatalkan serangan udara ke Iran yang direncanakan pada Kamis malam. Pembatalan ini dilakukan karena adanya jalur komunikasi dengan pihak Iran.
Padahal, Trump sempat mengancam akan mengambil alih Pulau Kharg dalam waktu dekat. Wilayah tersebut merupakan terminal ekspor minyak utama milik Iran. Ia juga sempat menyatakan ambisinya melalui unggahan di Truth Social untuk menguasai pasar minyak dan gas Iran sepenuhnya.
Ketegangan militer sempat meningkat pekan ini karena rasa frustrasi Trump terhadap Tehran. Iran dianggap tidak kunjung menyetujui pembukaan Selat Hormuz dan penghentian program nuklir. Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter Apache di Hormuz awal pekan ini.
Timur Tengah berada di ambang perang skala penuh setelah pasukan AS menghantam sasaran di Iran pada Rabu. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke beberapa negara Teluk.
Kantor berita Tasnim melaporkan Iran menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sasaran tersebut meliputi pangkalan udara Ali Salem, Ahmad al-Jaber, dan Sheikh Issa. Otoritas Bahrain menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil menghancurkan ancaman udara dari Iran.
Media pemerintah Iran juga menyebut adanya serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal AS di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat Kuwait menutup wilayah udaranya pada Kamis. Di saat yang sama, Israel memperingatkan adanya peluncuran dari Lebanon menuju wilayah utara mereka.
Meski konflik memanas, Rystad Energy menilai pasar minyak saat ini lebih siap menghadapi gangguan pasokan. Hal ini didukung oleh rekor ekspor minyak mentah AS dan permintaan yang melunak dari Tiongkok. Selain itu, terdapat rute ekspor alternatif yang mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Jorge Leon, Senior Vice President Rystad Energy, memberikan peringatan terkait volatilitas harga. Menurutnya, harga minyak tetap rentan terhadap ayunan tajam.
“Peluang terobosan diplomatik dalam waktu dekat telah berkurang. Hal ini membuat harga minyak rentan terhadap ayunan tajam saat investor menilai situasi apakah permusuhan akan tetap terkendali atau berkembang menjadi konflik berkepanjangan,” kata Leon

