STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Citatah Tbk (CTTH) mencatat lonjakan rugi bersih pada tiga bulan pertama 2026. Perseroan membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,76 miliar, atau membengkak 129% dibandingkan periode sama tahun 2025 sebesar Rp2,51 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 yang dikutip Minggu (3/5/2026), kinerja CTTH tertekan penurunan pendapatan. Penjualan bersih merosot 41,9% menjadi Rp16,73 miliar, dari sebelumnya Rp28,82 miliar pada kuartal I 2025.
Penurunan penjualan terutama berasal dari segmen bahan bangunan impor yang tercatat Rp12,81 miliar. Sementara segmen limestone menyumbang Rp3,92 miliar. Berdasarkan wilayah, penjualan domestik mencapai Rp12,11 miliar dan ekspor Rp4,62 miliar.
Manajemen menyebut tekanan ekonomi makro menjadi faktor utama. “Kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tekanan akibat perlambatan aktivitas pembangunan dan investasi, khususnya setelah periode pemilihan umum,” tulis Direksi dalam laporan tersebut.
Sejalan dengan turunnya penjualan, beban pokok penjualan ikut turun menjadi Rp12,55 miliar dari Rp21,70 miliar. Namun, laba kotor tetap menyusut menjadi Rp4,18 miliar dari Rp7,12 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, beban usaha meningkat menjadi Rp6,96 miliar, dari sebelumnya Rp6,48 miliar. Beban ini terdiri dari beban pemasaran dan penjualan Rp2,98 miliar serta beban umum dan administrasi Rp3,98 miliar.
Perseroan juga mencatat kenaikan beban bunga dan keuangan lainnya menjadi Rp2,93 miliar, dari Rp2,73 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset CTTH per 31 Maret 2026 tercatat Rp661,85 miliar, naik tipis dari posisi akhir 2025 sebesar Rp658,64 miliar. Aset lancar tercatat Rp370,48 miliar dan aset tidak lancar Rp291,36 miliar.
Total liabilitas meningkat menjadi Rp502,91 miliar dari Rp493,94 miliar. Liabilitas jangka pendek sebesar Rp134,33 miliar dan jangka panjang Rp368,57 miliar. Sementara itu, ekuitas turun menjadi Rp158,94 miliar dari Rp164,70 miliar.
Laporan keuangan ini ditandatangani oleh Presiden Direktur Taufik Johannes dan Direktur Tiffany Johanes. Manajemen menyatakan akan menjaga keberlanjutan usaha melalui langkah operasional yang lebih konservatif dan efisiensi biaya.
Untuk memperkuat ketahanan, Perseroan akan memantau stabilitas operasional dan likuiditas. Strategi yang ditempuh antara lain diversifikasi portofolio produk ke segmen harga menengah guna meningkatkan penetrasi pasar.
