STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar saham Indonesia menghadapi tantangan berat sepanjang awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot hingga 18,2% secara year-to-date (YTD). Penurunan ini menempatkan pasar modal Tanah Air sebagai salah satu yang terdalam koreksinya dibandingkan negara tetangga.
Deputi Kepala Divisi Equity Research and Strategy PT Mandiri Sekuritas, Kresna Partogi Hutabarat, mengatakan tekanan eksternal makro masih sangat kuat memengaruhi pasar saham domestik.
Konflik geopolitik global menjadi pemicu utama kenaikan harga energi dunia. Kondisi tersebut memunculkan risiko stagflasi global yang menekan ekspektasi pertumbuhan bisnis emiten. Selain itu, terjadi penyedotan modal global secara konsisten ke pasar negara maju (developed market).
Fenomena flight for growth atau pelarian modal untuk mencari pertumbuhan menjadi penyebab utamanya. Investor global cenderung memindahkan dana ke pasar negara maju seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Wilayah tersebut memiliki banyak emiten teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
“Global capital absorption memang masih konsisten terjadi dari pasar developed market seperti Amerika dan juga pasar-pasar saham lainnya yang memiliki emiten-emiten yang berkecimpung di teknologi di sektor AI dan juga teknologi,” ujar Kresna dalam acara Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, perusahaan besar seperti Samsung>, SK Hynix, hingga TSMC mampu mencatatkan pertumbuhan laba 30% hingga dua kali lipat. Emiten-emiten tersebut memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas perdagangan bernilai triliunan US$.
Di sisi domestik, pasar juga tengah mencermati ulasan indeks MSCI yang akan keluar dalam waktu dekat. Ada kekhawatiran sejumlah emiten berpotensi keluar dari konstituen indeks MSCI Indonesia akibat kebijakan transparansi data terkait konsentrasi kepemilikan saham tertentu.
Investor juga memantau risiko penurunan peringkat utang pemerintah (sovereign bond rating downgrade). Faktor ini dinilai berpengaruh terhadap biaya modal (cost of equity) dan aliran dana ke pasar saham ke depan.
“Investor asing ini memang sangat bergantung ataupun dipengaruhi oleh MSCI Index Review itu sendiri karena otomatis buat sebagian besar global investments yang masuk ke pasar saham kita,” tambah Kresna.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki daya tarik dibanding negara tetangga di Asia Tenggara. Sektor komoditas menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ekspor Indonesia kini tidak hanya bergantung pada CPO dan batu bara, tetapi juga ditopang komoditas lain seperti tembaga, nikel, dan aluminium.
Sektor pertambangan bahkan mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 110% pada kuartal I-2026. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi pasar di tengah aksi jual pada sektor perbankan dan konsumer.
Data Mandiri Sekuritas menunjukkan tekanan jual dominan terjadi di sektor perbankan dan konsumer. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI banyak dilepas investor asing.
Sebaliknya, sektor komoditas dan industri justru mencatatkan tren beli. Emiten emas dan tambang batu bara menjadi pilihan utama investor untuk mengamankan portofolio.
Menariknya, investor ritel domestik kini memegang peran strategis sebagai penstabil pasar. Mereka menguasai sekitar 15% dari total kepemilikan di IHSG. Kelompok ini kerap disebut sebagai “pejuang pasar modal” karena menjaga ketahanan pasar di tengah aksi jual asing.
Kresna mengungkapkan posisi kas investor institusi domestik saat ini berada pada level sangat tinggi. Per April 2026, tingkat kas mencapai 30,3%, naik signifikan dibanding tahun 2023 yang sebesar 19,6%. Cadangan dana yang melimpah ini dinilai siap kembali masuk ke pasar saham ketika kondisi membaik.
Bagi investor dengan horison jangka menengah dan panjang, kondisi saat ini dinilai sebagai momentum menarik untuk masuk ke pasar. Valuasi pasar saham Indonesia disebut sudah sangat murah.
“Secara valuasi kita sudah berada di level yang sangat murah sekali di minus 2 standar deviasi dari 5-year average. Jadi secara historis dan secara peers kita sudah relatively at discount dan ini merupakan bargain opportunity buat investor,” tegas Kresna.
Memasuki semester II-2026, Mandiri Sekuritas memberikan rekomendasi sektor-sektor unggulan. Sektor perbankan, nikel, telekomunikasi, serta emas dan tembaga menjadi fokus utama. Sektor perbankan tetap menjadi pilihan karena proyeksi pertumbuhan laba yang stabil dan dividen yang menarik.
Mandiri Sekuritas memberikan peringkat overweight (OW) untuk beberapa sektor strategis, meliputi batu bara, kesehatan, alat berat, nikel, minyak dan gas, teknologi, serta telekomunikasi. Sebaliknya, sektor konstruksi, properti, jalan tol, dan menara telekomunikasi masih berada pada posisi underweight (UW).
Secara spesifik, beberapa saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi (top buy) antara lain BMRI, BBNI, dan ASII. Selain itu, saham berbasis komoditas seperti ANTM dan TINS juga masuk dalam daftar pilihan utama.
Dengan kombinasi valuasi yang murah, pertumbuhan laba emiten yang tetap terjaga, serta dukungan investor domestik, pasar saham Indonesia diprediksi memiliki ruang pembalikan arah yang kuat pada semester II-2026. Investor disarankan mulai mencermati saham-saham berfundamental kuat yang harganya sudah terkoreksi dalam.
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
