STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Intanwijaya Internasional Tbk (INCI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp7,22 miliar (Rp35 per saham) pada kuartal I 2026, tumbuh 24,03% jika dibandingkan Rp5,82 miliar (Rp28 per saham) pada periode sama 2025.
Seperti dikutip dalam materi paparan publik yang disampaikan ke BEI, Selasa 19 Mei 2026, penjualan bersih INCI meningkat 4,99% menjadi Rp91,12 miliar pada kuartal I 2026, dari Rp86,79 miliar pada kuartal I 2025.
Mayoritas penjualan INCI selama Januari-Maret 2026 berasal dari produk Urea Formaldehyde Resin sebesar Rp69,85 miliar, Phenol Formaldehyde Resin Phenol Formaldehyde Resin Rp8,39 miliar, Melamine Formaldehyde Resin Rp5,22 miliar, Melamine Formaldehyde Powder Rp3,26 miliar dan produk lainnya.
Seiring penjualan, beban pokok penjualan INCI juga naik 4,94% menjadi Rp72,93 miliar pada kuartal I 2026, dari Rp69,49 miliar pada kuartal I 2025. Laba kotor Perseroan tumbuh 5,19% jadi Rp18,19 miliar pada kuartal I 2026, dari Rp17,29 miliar pada kuartal I 2025.
Setelah dikurangi dengan beban penjualan dan pemasaran, beban umum dan administrasi,, serta biaya keuangan, emiten produsen kimi dasar tersebut mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp8,479 miliar pada kuartal I 2026, naik 20,08% dibanding Rp7,06 miliar pada kuartal I 2025.
Total aset INCI per Maret 2026 sebesar Rp566,47 miliar , naik 1,31% dari Rp559,12 miliar per Desember 2025. Jumlah liabilitas dan ekuitas Perseroan per Maret 2026, masing-masing sebesar Rp80,46 miliar dan Rp486,08 miliar.
PT Intanwijaya Internasional Tbk (INCI) merupakan perusahaan kimia yang memproduksi formaldehida dan resin bubuk. Didirikan pada tahun 1981 dengan nama PT Intan Wijaya Chemical Industry. Fasilitas pertama yang dibangun pada tahun 1986 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berfokus pada produksi produk formaldehida. Kemudian melakukan IPO pada bulan Juli 1990.
Seiring berkembangnya perusahaan, perusahaan ini mendirikan fasilitas produksi bubuk Hexamine (untuk perekat) pada tahun 1992. Selain itu, juga membangun fasilitas produksi kedua di Semarang, Jawa Tengah pada tahun 1993, untuk menjangkau pasar industri perkayuan. di Jawa. (konrad)
