Future Wall Street Melemah, Pasar Menanti Laporan Nvidia dan Perkembangan Konflik Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Indeks saham berjangka (future) Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Minggu malam (17/5/2026) waktu setempat atau Senin pagi (18/5/2026) WIB, setelah bursa Wall Street mencetak rekor tertinggi pada pekan lalu.

Menguntip CNBC International, pelaku pasar kini bersiap menyambut rilis laporan keuangan kuartalan dari NVIDIA Corporation dan sejumlah peritel besar. Investor juga terus mencermati perkembangan konflik antara AS dan Iran.

Data perdagangan menunjukkan Dow Jones Industrial Average future turun 114 poin atau 0,2%. Sementara itu, S&P 500 future dan Nasdaq-100 future masing-masing terkoreksi sekitar 0,1%.

Harga minyak mentah melonjak pada awal pekan. West Texas Intermediate (WTI) future naik 1,8% ke level US$107,26 per barel, sedangkan Brent future menguat 1,5% menjadi US$110,67 per barel.

Nvidia dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu mendatang, bersamaan dengan Target Corporation. Selanjutnya, Walmart Inc. akan mengumumkan kinerja pada Kamis.

Pekan lalu, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru. Dow Jones bahkan sempat menyentuh level 50.000. Namun, reli pasar tertahan pada Jumat lalu akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.

Yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam setahun terakhir. Di Inggris, imbal hasil obligasi 30 tahun melonjak ke posisi tertinggi sejak akhir 1990-an. Tren serupa juga terjadi pada obligasi jangka panjang Jepang.

Kenaikan harga minyak dunia menambah tekanan terhadap pasar. Ketegangan antara AS dan Iran masih tinggi, meskipun kedua negara tengah melakukan negosiasi untuk mengakhiri konflik.

Sektor teknologi, yang selama ini menjadi motor penggerak pasar, terkena dampak paling besar dari lonjakan yield obligasi. Indeks Nasdaq-100 anjlok 1,5% pada Jumat lalu, yang merupakan penurunan harian terbesar sejak 27 Maret.

Data inflasi terbaru yang dirilis pekan lalu juga memperkecil peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve System (The Fed). Presiden Donald Trump sebelumnya mendesak Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk menurunkan suku bunga.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai suku bunga kemungkinan akan tetap tinggi lebih lama.

“Latar belakang makroekonomi tidak lagi mendukung bias pelonggaran, apalagi pemangkasan suku bunga,” ujar Ed Yardeni.

Terkait situasi di Timur Tengah, Trump kembali memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan dalam proses negosiasi.

“Iran harus segera bertindak atau tidak akan ada lagi yang tersisa,” tegas Trump.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Memerah, Dow Jones Anjlok Lebih dari 500 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS)...

Inflasi AS Kembali Menghantui, Bursa Saham Eropa Ditutup Melemah Tajam

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah tajam...

Rekor Kospi Runtuh, Bursa Asia Memerah! Apa Penyebabnya?

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup melemah pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru