STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia mengalami tekanan besar pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (20/5/2026) WIB. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
Mengutip CNBC International, harga emas spot anjlok 2% ke posisi USD 4.474,40 per ons troi. Harga logam mulia ini sempat menyentuh level terendahnya sejak 30 Maret pada sesi perdagangan tersebut.
Kondisi serupa terjadi pada pasar berjangka. Harga kontrak emas AS untuk pengiriman Juni merosot 1,8% menjadi USD 4.476,80 per ons troi.
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar menjadi faktor utama penekan harga. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun AS bertahan di level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Kondisi ini dipicu oleh antisipasi investor terhadap potensi sikap agresif (hawkish) dari bank sentral AS atau The Fed. Langkah ini diperkirakan diambil untuk meredam inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi.
Edward Meir, seorang analis di Marex, memberikan gambaran mengenai situasi pasar global. Ia menyoroti fenomena kenaikan suku bunga di berbagai negara.
“Kita melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di seluruh dunia, dan hal itu benar-benar membebani emas. Dolar juga lebih kuat, itu adalah hal yang negatif,” ujar Meir.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor. Hal ini karena emas merupakan aset aman (safe haven) yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga.
Di sisi lain, penguatan dolar AS membuat harga komoditas yang dipatok dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal. Dampaknya terasa langsung bagi para pemegang mata uang lainnya.
Ketegangan di Timur Tengah dan naiknya harga minyak mentah Brent juga ikut memengaruhi pasar. Kenaikan biaya bahan bakar ini semakin memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, menyampaikan analisanya melalui sebuah catatan tertulis. Ia melihat adanya tantangan makroekonomi jangka pendek bagi emas.
“Meskipun alasan investasi struktural untuk emas sebagian besar tetap utuh, perkembangan makro jangka pendek telah menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi harga,” tulis Hansen.
Hansen juga memperkirakan peran bank sentral akan kembali menguat di masa depan. Permintaan emas dari sektor ini diprediksi akan menjadi motor penggerak utama pasar.
“Begitu tekanan terkait energi mulai mereda, permintaan bank sentral mungkin muncul kembali sebagai pendorong yang lebih dominan,” tambah Hansen.
Kini pelaku pasar sedang menanti rilis notulensi rapat kebijakan terbaru The Fed. Dokumen yang dijadwalkan terbit pada Rabu waktu setempat ini akan menjadi panduan untuk memprediksi arah kebijakan moneter AS ke depan.
Tren penurunan harga emas turut menyeret logam mulia lainnya ke zona merah. Harga perak spot jatuh cukup dalam sebesar 5,7% menjadi USD 73,25 per ons troi.
Penurunan juga dialami oleh platinum yang melandai 2,8% ke posisi USD 1.923,55 per ons troi. Sementara itu, harga paladium tergerus 3,3% ke level USD 1.371,25 per ons troi.

