spot_img

Harga Emas Dunia Bangkit di Atas USD 4.000, Perak dan Platinum Ikut Hijau

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (26/6/2026) WIB. Logam mulia ini berhasil bangkit ke atas level psikologis USD 4.000 per ons troi. Data inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai ekspektasi menjadi pendorong utamanya.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,7% menjadi USD 4.029,09 per ons troi. Sebelumnya, harga sempat turun hingga 1% pada sesi yang sama. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Agustus ditutup menguat 0,9% ke posisi USD 4.045,20 per ons troi.

Indeks dolar AS berbalik turun setelah rilis data ekonomi tersebut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS juga ikut melemah. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, memberikan penjelasannya. Ia menyebut data inflasi menjadi alasan emas bergerak stabil.

“Data PCE tampaknya sebagian besar sesuai dengan ekspektasi. Pada titik ini, itulah sebagian alasan mengapa emas relatif tenang hari ini,” ujar David Meger.

Laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS melonjak 4,1% dalam 12 bulan hingga Mei. Angka ini merupakan kenaikan terbesar dan pembacaan pertama di atas 4,0% sejak April 2023. Meski begitu, hasil ini tetap sesuai dengan perkiraan para ekonom.

Pelaku pasar kini melihat peluang 80% untuk kenaikan suku bunga pada Desember mendatang. Angka ini turun dibanding peluang 85% sebelum data PCE dirilis. Meger menilai tekanan inflasi masih akan menjadi fokus utama pasar ke depan.

“Titik fokus utama akan tetap pada tekanan inflasi ke depan. Itulah beberapa alasan mengapa kita melihat harga emas memburuk selama beberapa sesi terakhir,” tambah Meger.

Harga emas sempat jatuh di bawah USD 4.000 per ons troi pada Rabu. Penurunan itu merupakan yang pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir atau sejak November 2025. Tekanan muncul setelah bank sentral AS (The Fed) memberikan sinyal kebijakan suku bunga tinggi pekan lalu.

Emas memang dikenal sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas. Investor cenderung beralih ke aset lain yang memberikan imbal hasil bunga.

Di sisi lain, harga minyak mentah justru turun ke level sebelum perang. Harapan akan tambahan pasokan dari Timur Tengah menenangkan pasar. Kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel pekan lalu memungkinkan lalu lintas di selat kembali normal.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pembahasan Belum Kelar, Kementerian ESDM Belum Putuskan Besaran RKAB Nikel 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral...

Iran Serang Kapal Kargo, Harga Minyak Dunia Berbalik Arah Naik 2%

STOCKWATCH.ID (MUSCAT) – Harga minyak dunia berbalik menguat lebih...

Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 Kompak Menanjak, Ini Pemicunya

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru