spot_img

Futures Wall Street Tertekan, Pasar Waspadai Efek Konflik AS-Iran dan Data Inflasi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall Street bergerak melemah tipis pada perdagangan Senin malam (14/7/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (15/7/2026) WIB. Pelaku pasar mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta menanti rilis laporan keuangan emiten besar dan data inflasi terbaru.

Mengutip CNBC, futures indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 40 poin atau sekitar 0,1%. Sementara futures indeks S&P 500 bergerak mendatar, begitu juga dengan futures Nasdaq-100 yang berada di sekitar level penutupan sebelumnya.

Pergerakan hati-hati tersebut terjadi setelah Wall Street ditutup melemah pada sesi reguler.  Sentimen pasar tertekan usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran di Selat Hormuz.

“Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggannya untuk masuk atau keluar,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Pengumuman tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu aksi jual di pasar saham.  Indeks S&P 500 terkoreksi 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,6%. Adapun Dow Jones melemah lebih dari 100 poin atau sekitar 0,3%.

Harga minyak mentah Brent juga melesat lebih dari 9%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2020.

Tekanan diperkirakan berlanjut di bursa Asia-Pasifik.  Futures indeks Nikkei 225 Jepang berada di level 67.070, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di posisi 67.242,73.

Futures indeks S&P/ASX 200 Australia tercatat di level 8.775, lebih rendah dari penutupan terakhir pada 8.808,5. Sementara futures indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 24.158, di bawah posisi penutupan sebelumnya sebesar 24.213,72.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury juga naik tajam. Investor khawatir lonjakan harga minyak dapat mempertahankan tekanan inflasi pada level tinggi.

Di tengah gejolak geopolitik, pelaku pasar juga menunggu musim laporan keuangan emiten.  JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Bank of America dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartalan pada Selasa sebelum pembukaan pasar.

Direktur Riset dan Strategi Investasi Canaccord Genuity, Michael Graham, menilai pelemahan pasar saat ini belum mengubah pandangan terhadap prospek musim laporan keuangan.

“Hari ini sedikit berbeda. Hampir semuanya turun. Namun secara umum, hal ini tidak mengubah cara kami memandang musim laporan keuangan.  Kami masih cukup konstruktif terhadap saham teknologi berkapitalisasi besar. Kami juga melihat potensi kejutan positif dari laba perusahaan,” ujar Graham kepada CNBC.

Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba emiten anggota indeks S&P 500 tumbuh 23,6% pada kuartal II-2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, investor juga menanti rilis data inflasi AS untuk Juni 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa pagi waktu AS. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, juga akan memberikan laporan kebijakan moneter semesteran di hadapan anggota parlemen AS dalam agenda Humphrey-Hawkins selama dua hari.

Agenda tersebut menjadi penampilan pertama Warsh sebagai Ketua The Fed dalam menyampaikan laporan semesteran bank sentral AS kepada Kongres.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Blokade Iran, Harga Emas Dunia Terjun Bebas 3%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot tajam pada...

Trump Blokade Iran, Harga Minyak Brent Terbang Lebih dari 9%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari...

Futures Wall Street Terpuruk, Pasar Dihantui Konflik AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru