STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Wall Street kompak menguat pada penutupan perdagangan hari Selasa (14/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (15/7/2026) WIB. Tiga indeks utama berhasil mengakhiri hari di zona hijau berkat dukungan data inflasi yang melandai.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik tipis 9,63 poin atau 0,02% ke level 52.508,27. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,38% dan berakhir di posisi 7.543,59. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 0,9% menjadi 26.107,01.
Kenaikan Nasdaq didorong oleh kebangkitan saham-saham semikonduktor. Sektor ini pulih setelah sempat mengalami aksi jual pada sesi sebelumnya. Indeks VanEck Semiconductor ETF (SMH) tercatat melesat 2,5%.
Saham Lam Research dan Micron Technology memimpin kenaikan dengan lonjakan sekitar 5%. Applied Materials dan Teradyne juga menguat lebih dari 3%. Sementara itu, STMicroelectronics naik lebih dari 2%.
Sentimen pasar membaik setelah data inflasi Juni 2026 lebih rendah dari perkiraan. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun 0,4% secara bulanan. Hal ini membuat tingkat inflasi tahunan berada pada angka 3,5%.
Angka ini lebih rendah dibanding ekspektasi para ekonom yang memperkirakan inflasi di posisi 3,8%. Kondisi tersebut menurunkan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan Juli ini.
Skyler Weinand, Chief Investment Officer di Regan Capital, memberikan analisanya terkait data ini. Ia menilai tekanan harga mulai berkurang.
“Data IHK hari Selasa yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan lonjakan inflasi yang didorong oleh perang Iran mulai memudar,” ujar Weinand.
Meski demikian, Weinand mengingatkan investor untuk tetap waspada. Ia menyebut kebijakan pimpinan The Fed saat ini cenderung ketat.
“Data inflasi yang lebih lemah kemungkinan membuat The Fed menahan diri untuk saat ini dan mengurangi peluang kenaikan suku bunga. Namun, kami mengingatkan investor hampir setiap komunikasi dari Ketua Warsh selama masa jabatannya yang singkat sejauh ini bersifat hawkish,” tambah Weinand.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan kesaksian di hadapan Kongres pada hari yang sama. Ia memberikan sinyal positif mengenai masa depan harga konsumen.
“Lonjakan inflasi selama lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu,” tegas Warsh.
Namun, penguatan indeks Dow Jones tertahan oleh anjloknya saham International Business Machines (IBM). Saham IBM jatuh 25% setelah perusahaan memperingatkan laba kuartal kedua akan lebih rendah dari perkiraan. IBM menyebut permintaan yang lemah di bisnis perangkat lunak dan infrastruktur sebagai penyebabnya.
Di sektor perbankan, saham Goldman Sachs melonjak 9% setelah melaporkan laba yang melampaui perkiraan. Bank besar lainnya seperti JPMorgan Chase naik lebih dari 2%, sementara Bank of America tumbuh hampir 2%.
Dari pasar komoditas, harga minyak dunia berakhir menguat. Minyak mentah AS naik 1,5% ke level di atas USD 79 per barel. Minyak Brent juga naik 1,7% menjadi di atas USD 84 per barel.
Harga minyak sempat turun dari posisi tertingginya setelah Presiden Donald Trump membatalkan tuntutan biaya 20% bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Namun, ketegangan tetap tinggi seiring serangan baru Amerika Serikat ke Iran. Hal ini terjadi setelah Trump menyatakan akan memberlakukan kembali blokade pengiriman Iran melalui selat tersebut.

