STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada akhir perdagangan Selasa (21/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (22/7/2026) WIB. Kenaikan ini mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam lima pekan terakhir. Pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan energi akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 1,78 USD atau 2% menjadi 91,01 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,66 USD atau 2% menjadi 84,91 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 10 Juni 2026. Sementara minyak WTI mencapai level tertinggi sejak 11 Juni 2026. Brent juga berada di wilayah overbought selama tujuh hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Juni 2025.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah. Langkah itu terjadi setelah ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Pada saat yang sama, pasukan AS menggempur sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah fasilitas AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Setidaknya satu kapal tanker juga dilaporkan terkena dampak di Selat Hormuz.
Analis SEB Research menilai serangan terbaru AS bisa dipandang sebagai upaya terakhir untuk memperkuat posisi negosiasi.
“Kalangan optimistis mungkin melihat serangan terbaru Amerika sebagai upaya terakhir untuk memperkuat posisi negosiasi sebelum tercapai kompromi dan Selat Hormuz dibuka kembali,” tulis SEB Research.
Namun, SEB juga mengingatkan adanya risiko konflik berkepanjangan.
“Risikonya adalah kebuntuan yang lebih lama, dengan arus energi yang tetap tidak pasti, harga minyak yang lebih tinggi, dan serangan yang berulang,” lanjutnya.
Kelompok Houthi pada Senin (20/7/2026) mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah ini memperluas konflik dan meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi serta perdagangan global.
Data pelayaran LSEG menunjukkan dua kapal tanker yang membawa minyak Arab Saudi untuk China dan India berbalik arah menuju Terusan Suez. Meski demikian, sejumlah sumber menyebut pelabuhan Yanbu di Laut Merah masih beroperasi normal.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai ancaman blokade tersebut menjadi perhatian serius pasar.
“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap eksportir minyak utama lainnya,” ujar Waterer.
Di sisi lain, data Joint Organizations Data Initiative menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Mei 2026 dan mencapai level terendah dalam catatan data.
Risiko pasokan global juga datang dari kawasan Laut Hitam. Caspian Pipeline Consortium (CPC) menghentikan penerimaan minyak dari Kazakhstan setelah serangan terhadap kapal tanker di terminal Laut Hitam.
Rusia menuding Ukraina berada di balik serangan tersebut. Namun, Ukraina belum memberikan komentar. Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan Badan Informasi Energi AS (EIA).
Analis memperkirakan perusahaan energi di AS menarik sekitar 500 ribu barel minyak mentah dari penyimpanan pada pekan yang berakhir 17 Juli 2026. Jika terealisasi, penurunan tersebut akan menjadi penurunan stok selama dua pekan berturut-turut. Pada periode yang sama tahun lalu, stok minyak AS turun 3,2 juta barel. Rata-rata penurunan selama lima tahun terakhir mencapai 1,2 juta barel.

