STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) meyakini inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027 meski menghadapi tekanan dari kenaikan harga pangan, risiko El Nino, dan tingginya harga komoditas global.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan BI terus mencermati dan mengantisipasi berbagai risiko inflasi melalui kebijakan moneter serta sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah.
“Yang kita meyakini, inflasi ke depan akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1%. Sejumlah risiko memang kita cermati, kita antisipasi, dan juga kita respons secara baik,” ujar Perry dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Perry menjelaskan, terdapat tiga komponen utama inflasi. Pertama, inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan kekuatan permintaan dan penawaran. Komponen ini direspons melalui kebijakan suku bunga serta upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Komponen kedua adalah inflasi pangan bergejolak (volatile food). Menurut Perry, tekanan pada kelompok ini dipengaruhi kenaikan harga komoditas global atau imported inflation serta dampak fenomena El Nino.
Untuk mengendalikan inflasi pangan, BI memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GNPIP).
“Jadi itu, kami meyakini sekali lagi untuk inflasi dengan berbagai faktor tersebut akan terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1%,” kata Perry.
Ia menambahkan, inflasi inti diperkirakan tetap berada di bawah 3%. Sementara inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi volatile food diproyeksikan berada di bawah 3,3%.
“Tentu saja kita harus merespons bagaimana mengendalikan nilai tukar dari dampak global dan juga dampaknya terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, fiskal, maupun dunia usaha,” ujar Perry.
Perry menyampaikan inflasi IHK pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 3,08% (yoy).
Inflasi inti tetap terjaga di level 2,76% (yoy), didukung konsistensi kebijakan BI dalam menjaga sasaran inflasi.
Sementara itu, inflasi kelompok administered prices (AP) meningkat menjadi 3,42% (yoy), seiring penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global.
Adapun inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,58% (yoy). Kenaikan tersebut terutama dipicu inflasi komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras akibat penurunan produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Ke depan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan meningkatkan sinergi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID, termasuk memperkuat implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna mengantisipasi risiko gangguan cuaca seperti El Nino terhadap harga pangan.

